Bertemu "Presiden" Bajo Indonesia (Wakatobi Part 9)

Abdul Manan berbaju Korpri mendampingi Hugua menerima tamu Kemenlu (Foto: Kamaruddin Azis)

Pria mungil paruh baya ini berdiri di meja bartender resort Patuno. Sebotol air mineral digenggamnya. Pakaiannya masih pakaian Korpri. Pagi sebelumnya, dia mengikuti upacara peringatan hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2011 di pelataran Kantor Bupati Wakatobi di Wangi Wangi.

Malam ini dia mesti menemani Bupati menerima utusan Kementerian Luar Negeri dan alumni PKPM serta Tim JICA CD Project (tempat di mana saya bekerja). PKPM adalah satu proyek pengembangan kemitraan dalam pemberdayaan masyarakat di mana Hugua sebagai alumninya.

Sosok itu adalah Ir. Abdul Manan, M.Sc, Kepala Bappeda Kabupaten Kepulauan Wakatobi. Dia mengaku berdarah Bajo. Suku Bajo kerap disebut suku laut. Di hampir semua perkampungan Bajo mereka bermukim di atas air, alias membangun rumah di atas air seperti di Soropia, Sulawesi Tengah, Kaledupa hingga Torosiaje di Gorontalo.

Seraya menunggu opening, kami mengobrol. Sesekali menggunakan bahasa Bajo. Saya paham bahasa ini sejak bekerja untuk proyek pelestarian terumbu karang COREMAP fase I di Taman Nasional Laut Taka Bonerate, Selayar, Sulawesi Selatan antara tahun 1998-2003.

Di Wakatobi, komunitas Bajo masih sangat kuat dan luas. Ada lima desa yang dominan komunitas Bajo, salah satunya Komunitas Mola Raya.

“Sebenarnya nenek saya dari Pulau Rajuni Kecil, Taman Nasional Taka Bonerate” kata Pak Manan. Sebagai sosok penting di entitas Bajo, Manan punya obsesi untuk memperbanyak alokasi dana bantuan perumahan bagi komunitas Bajo yang tersebar di hampir semua wilayah pesisir Indonesia. Kondisi mereka yang memprihatinkan menyulut simpati Manan.

“Komunitas Bajo perlu pengorganisasian, sebetulnya komunitas ini ada dan menyebar di Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan beberapa wilayah pesisir lainnya” ungkap Manan.

“Bulan depan kami akan adakan musyawarah keluarga Bajo Indonesia” katanya. Menurut kabar, pada pertemuan beberapa waktu silam, di konferensi komunitas Bajo, Manan sempat didaulat sebagai ketua komunitas Bajo Indonesia, “presiden” para warga keturunan Bajo.

Manan, menghabiskan masa muda saat bersekolah SMA di Kota Bau Bau, Sulawesi Tenggara. Dia sahabat Hugua. Bupati Wakatobi saat ini. Dia juga pernah mengajar di SMA Muhammadiyah Kendari. Kini, Manan adalah pengendali pada kebijakan perencanan pembangunan daerah Wakatobi, mendampingi Hugua.

Dia bercerita bahwa fokus pembangunan daerah Wakatobi adalah Perikanan dan Pariwisata.

“Kami fokus di situ” tegasnya.

Manan sadar bahwa untuk mendukung keduanya Wakatobi harus memprioritaskan infrastruktur utama seperti bandara, jalan dan sarana prasarana perhubungan antar pulau. Mengenai wisata, Manan menyebut fokusnya di “targeted tourism”, semacam segmentasi pada beberapa wisatawan potensial.

“Kita perlu fokuskan pada targeted tourism, dibanding mass tourism. Dengan targeted tourism kita bisa menyasar pasar potensial. Meraup Dollar salah satunya” ujar Manan. Saat ditanyakan pergerakan uang atau dana di Wakatobi, Manan sangat optimistis.

“Tahun lalu nilai APBD kita sebesar 358 Milyar, kalau diakumulasikan bisa sampai 709 Milyar dengan anggaran APBN dan lain-lain” paparnya.

“Tahun ini APBD kita naik sampai 400 milyar, yang menarik bahwa ada dampak ril dari kegiatan Sail Wakatobi tahun ini. Nilai transaksi di bank meningkat tajam” sambungnya.

Saat saya tanyakan bagaimana menghapus kesan bahwa komunitas Bajo sering dianggap pembom ikan. Pak Manan menampik.

“Memang dulu ada beberapa warga yang membom ikan namun itu tidak tunggal dalam artian ada yang melindungi. Banyak titik yang memang disebut sebagai bertemunya para pelaku pembom namun kini telah hilang. Di beberapa titik pun bukan hanya orang Bajo yang membom, komunitas lain pun ada” katanya. Bagi Manan, yang penting adalah mendeteksi penyebab kegiatan itu.

Dia menambahkan bahwa penggunaan bom ikan ini telah ada di catatan “Expedition Heidelberg” pada tahun 1913. Di Kolaka dan Padamarang sudah terlihat adanya pemboman ikan, Hanya saja belum disebutkan dari mana mereka itu” ungkap Manan.

“Orang Bajo menyebutnya “uba”, bahannya diambil dari sisa mesiu senjata perang. Warga diajar oleh para mantan tentara atau ahli merakit bom” katanya. Ini berarti bahwa ada transformasi pengetahuan ke masyarakat Bajo.

6 thoughts on “Bertemu "Presiden" Bajo Indonesia (Wakatobi Part 9)

  1. adakah diantara suku bajo yang jadi pemimpin namun tak tersentuh busana birokrat? yang wawasannya lebih mandiri ketimbang menunggu asupan dana ‘pelestarian’ dari Jakarta?

    saya berharap ada.

    Like

  2. mungkin bisa mencontoh bagaimana suku Badui dalam wilayah kanekes,kabPandeglang ,Banten . Pemerintah memberikan tanah ulayat yg dilindungi undang-undang dan Suku Badui tetap melestarikan budayanya serta menjaga hutan alamnya hingga kini….

    Like

  3. disini kita bukan lagi berbicara bagaimana kemudian mebangun masyarakat bajo agar kemudian suku bajo di indonesia disejajar dengan entitas sosial lainnya dalam hal kesejahteraan (kemerdekaan hidup)dan tentunya bisa di akui sebagai salah satu suku yang sangat besar di indonesia. dan itu menurut esensi yang sangat urget kita bahas dan tentunya implementasinya yang paling urgent bukan hanya sekedar retorika-retorika kosong. By anak Bajo di Sapeken Jawa Timur.

    Like

  4. disini kita harus berbicara bagaimana kemudian mebangun masyarakat bajo agar kemudian suku bajo di indonesia disejajar dengan entitas sosial lainnya dalam hal kesejahteraan (kemerdekaan hidup)dan tentunya bisa di akui sebagai salah satu suku yang sangat besar di indonesia. dan itu menurut esensi yang sangat urget kita bahas dan tentunya implementasinya yang paling urgent bukan hanya sekedar retorika-retorika kosong. By anak Bajo di Sapeken Jawa Timur.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: