Dan dan Rhian, Mereka yang Mencintai Lebih (Wakatobi Part 7)

Suasana pagi di Patuno, Wangi Wangi (Foto: Kamaruddin Azis)

Sejak kapan anda tahu bahwa ada gugusan pulau-pulau yang serupa zamrud khatulistiwa seperti Wakatobi, Taka Bonerate atau Raja Ampat yang menyimpan pesona dan kekayaan alam laut yang luar biasa? Sadarkah anda bahwa kemolekan pesisir dan pulau kita sangat dipuja dan bahkan lebih diminati olah bangsa lain dari pada kita?

Ada pertanyaan seorang yang mengaku ilmuwan kelautan Indonesia, lulusan Amerika saat Ir. Hugua, bupati Wakatobi dipanel dengan Walikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin pada tanggal 27 September 2011 lalu dalam acara diskusi Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) di Makassar.

Pertanyaan yang membuat Ir Hugua terbahak lalu memberikan reaksi spontan.

“Pak Bupati, di mana itu Wakatobi? Apakah ada penerbangan ke sana?”. Saat itu Hugua menjawab, “Anda ini lebih tahu negara sana dari pada negara sendiri. Makanya jangan terlalu lama di Amerika”

Kecintaan warga pendatang seperti Eropa sebagaimana disebutkan di paragraf di atas penulis temukan di Wakatobi. Mereka secara verbal menyebutkan sangat mencintai Wakatobi dan mau mengambil bagian dalam memajukan Wakatobi.

***

Dan dan Rhian contohnya. Sekilas, Dan Lazell terlihat bagai anak baru gede. Wajahnya imut walau rambutnya halus dan langka. Malam di tanggal 30 September itu, di meja restoran Patuno Beach Resort dia bersemangat sekali. Sesekali menggoyangkan kakinya di bawah meja makan, seperti sedang bersenandung.

Saya menyapanya bersama seorang teman wanita, namanya Rhian Perce asal Wales. Dan asal Inggris. Dia datang dan bekerja untuk Patuno Beach Resort sebulan lalu, di mula Agustus 2011.

“Ide pertama dia datang ke Indonesia adalah karena sangat ingin tinggal di Wakatobi” ujar Dan. Menurutnya, tinggal di Wakatobi menurut tidak mahal. Dan kenal kawasan ini karena menjadi obyek diskusi di tempat kuliahnya.

“Amazing! Menakjubkan” serunya, saat saya tanya bagaimana kondisi terumbu karang dan panorama bawah air Wakatobi.

Dan adalah volunteer di Operation Wallacea, satu proyek penelitian prestisius kelautan, bermula di pengujung tahun 90an di gugus kepulauan Wakatobi: Wangi Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Pulau yang dulu dijuluki Kepulauan Tukang besi ini ternyata menyimpan ratusan spesies terumbu karang dan ragam spesies ikan karang. Para peneliti memilih pulau Hoga sebagai basis penelitian (basecamp).Pulau inilah yang terbaik dari sisi keanekaragam sumberdaya terumbu karang.

Di Wakatobi, Pulau Hoga dan Pulau Tomia merupakan incaran para penyelam terumbu karang. Kedua pulau ini dikenal mempunyai topografi bawah air yang menakjubkan!

“Quality is very amazing. Service just perfect” katanya menambahkan seraya memberikan kerlingan.

Saat saya tanyakan apa obsesinya mengenai Wakatobi khususnya masyarakat Patuno, dia menjawab: “Saya ingin para pihak yang terkait dengan Patuno ini untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris”. Sesederhana itu.

Sebagai volunteer di Operasi Wallacea (Opwall), Dan pernah tinggal 10 bulan di Pulau Hoga dan kemudian datang lagi untuk memilih bekerja di Resort Patuno setelah diajak Mohini.

“Setahuku kawasan Wakatobi masuk dalam kawasan strategi Coral Triangle dan menyimpan ratusan spesies karang” paparnya. Dan telah pernah berkunjung di beberapa negara di Polinesia.

“Saya berharap bisa tetap di sini sampai February 2012 dan bisa tinggal di desa” katanya. Dan sangat mencintai Wakatobi, sangat ingin tinggal di surga terumbu karang ini.

“Saya kenal Wakatobi saat masih kuliah di universitas tepatnya di  Essex University. Itu, sekitar tujuh tahun lalu, kata Dan yang meneliti tentang terumbu karang dan dampaknya ke lingkungan pesisir untuk program setingkat doktoral.

Menurut Dan, yang paling penting sekarang adalah bagaimana bicara keterlibatan  masyarakat dalam setiap pemanfaatan sumberdaya alam. Merekalah sebagai faktor kunci dalam pemanfaatannya.

Lain Dan lain pula Rhian.

Malam itu, di samping Dan, duduk Rhian Pierce, dia wanita asal Wales. Dia hanya mendengar dan mengangguk saat Dan mengutarakan gagasan mengenai Wakatobi. Sebagaimana Dan, Rhian juga tinggal di rumah warga. Mereka diterima dengan sukacita.

Pagi tanggal 1 September 2011, saya bertemu lagi dengan Rhian. Dia sedang sarapan saat saya mencecarnya pertanyaan.

Kali ini dia bercerita tentang ketertarikannya dengan Wakatobi. Yang pasti pesona bawah lautnya. Namun ada yang berbeda dari Rhian-  dia lebih tertarik bicara burung.

“I love birds” katanya. Menurutnya, populasi burung di Wakatobi sangat melimpah dan ini belum diriset atau menjadi fokus kajian.

Dia berencana untuk mengangkat issu keberadaan burung di kawasan kepulauan Wakatobi ini sebagai fokus perhatiannya.

Benar juga, selain mengenal ekosistem bawah lautnya yang kaya spesies, di beberapa titik jumlah burung yang beterbangan di pulau Wangi Wangi sangat beragam. Ini yang menjadi perhatian Rhian.

Di pagi itu, Rhian mengenakan baju kaos ketat dengan celana pendek. Sepertinya dia tergesa untuk menuntaskan sarapannya.

“Saya mesti  bergegas ke Pulau Hoga, mengejar speedboat yang akan ke sana pagi ini” ujarnya bersemangat.

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.