Gelak Tawa dari Ruang Tunggu (Wakatobi Part I)

Ashar, DJ, Elis, Yan, Azis di atas Dornier (Foto: Kamaruddin Azis)

Tanggal 30 September 2011. Loper baru saja menyerahkan koran saat saya membuka pintu rumah.Headlinenya, “Istri Gubernur Protes Dewan”. Di kolom mini atas, ada berita menggiurkan; Oesman Investasi Rp. 3 T di Losari, Makassar. Saya tidak membaca detilnya, lebih memilih menyeruput teh. Koran itu masuk backpack. Pagi itu saya mesti bergegas ke bandara. Di ruang khayal, teras asik membayangkan untuk menjajal surga bawah laut nyata di segitiga karang dunia, Wakatobi!

***

Pagi menggeliat di Sungguminasa, Gowa saat kendaraan mengarah ke belahan timur Kota Metropolitan Makassar, Sulawesi Selatan. Jalan arteri dan lelorong di perbatasan Gowa – Makassar terlihat memadat. Para pekerja dan anak sekolah beriringan menuju pusat kota. Melewati daerah Pao Pao yang berkembang drastis, berbelok ke Aroepala, Jalan Hertasning Baru hingga Tello yang selalu padat merayap, keluar di Perintis Kemerdekaan, jalan menuju Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.

Waktu menunjukkan pukul 08.45 saat memasuki gate. Tiket Express Air telah ada di tangan.

Saya sampai di konter check ini, sekitar pukul 08.20 wita. Di sana telah ada Ashar Karateng, DJ Budiharto, Azis Gapnal, Noni Tangkilisan, sahabat kami di JICA Sulawesi Capacity Development Project (CD Project).

Manarangga Amir menyusul kemudian. Pagi itu saya berkenalan dengan Jamal Riry aktivis LSM di Ambon, Maluku, Nur Sangaji dosen di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu, Elizabeth Rahyu aktivis LSM berbasis di Jakarta, mereka alumni proyek PKPM-JICA. Juga Arrusdin Bone dan Yohannes Ghewa, dua sahabat yang saya kenal beberapa tahun terakhir, Arrusdin dari Gorontalo sedang Yohannes atau pak Yan dari Kupang.

Dua tim bertemu, beda periode. Yang satu tim CD Project dan alumni PKPM, akronim dari Program Kemitraan dalam Pemberdayaan Masyarakat, keduanya proyek yang didukung oleh Pemerintah Jepang atas kerjasama dengan Pemerintah Indonesia. Mereka adalah teman seperjalanan ke Kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara pagi itu. Kami bersebelas.

Pukul 10.00 waktu bandara. Silih berganti suara wanita di balik mikrofon mengulang nama lokasi destinasi penerbangan. Jakarta, Manado, Palu, Bali, hingga Poso. Suasana bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar sangat ramai. Ratusan penumpang menyesaki ruang tunggu.

Kami kebagian gate 5. Di dalam ruang tunggu, mereka tak henti melepas senyum. Ini semacam reuni. Ada yang bertemu lagi setelah 5-7 tahun. Rombongan menunggu penerbangan ke Kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, via Kota Bau-Bau. Mereka ditunggu Ir. Hugua, rekan, sekaligus alumni pada proyek PKPM. Juga Abdul Halim.

“Karena pesawat belum tiba, bagaimana kalau kita merokok dulu?” bisik Ashar ke Angga dengan suara pelan. Jamal ikut di belakangnya, mereka beriringan ke ruang pembuangan asap.

Saya, DJ dan Noni sedang berbagi tips mengenai gadget. Noni bawa blackberry baru, DJ gandrung perangkat berbasis Android.   

“Blackberry sebenarnya su lama tapi baru mau belajar” kata Noni seraya menyodorkan Roti Boy.

Di ruang tunggu bandara

“Ini semacam reuni PKPM dan CD Project. Tapi sesungguhnya, kita ingin tunjukkan solidaritas pada apa yang kita yakini sebagai penguatan melalui fasilitasi masyarakat berdasarkan potensi yang ada” kata Ashar Karateng, inisiator trip ini. 

Angga baru saja ulang tahun. Dia mengaku masih berumur 20 tahun. 

“Iyya, 20 tahun sebelum Masehi” kata Nur Sangaji meledek. Gelak tawwa menyeruak dari bangku rombongan. Noni yang sedang menikmati gadget blackberry barumenunggu keberangkatan dengan menyodorkan Roti Boyone is never enough, buns to die for! Ashar dan Angga melengkapinya denganSosro fruit tea. 

Gelak tawa berpendar dari ruang tunggu. Yan Ghewa bertopi rimba, Dia terlihat sangat siap dengan tirp ini. Arrusdin sibuk dengan headset yang kegedean di telinganya. Di rombongan ini sepertinya ada aset pemancing tawa selama perjalanan kami yang akan sampai tanggal 3 Oktober 2011.

Jamal Riry yang agak brewokan sepertinya jadi ledekan paling naas pagi itu, beberapa rekan sejawatnya tidak habis-habis menertawainya. Sepertinya, dia memang jadi lumbung tawa sejak tim PKPM giat melaksanakan pelatihan-pelatihan fasilitator beberapa tahun silam.

Selain mereka yang hadir pagi itu masih Fary J. Francis, anggota DPR dari Partai Gerindra dapil Nusa Tenggara dan Ellena Susana asal Mataram. Keduanya berhalangan hadir.

“Penumpang pesawat Express Air, tujuan Bau-Bau-Wakatobi disilakan memasuki pesawat” kata pemilik suara dari balik mikrofon.

Waktu menunjukkan pukul 10.15 wita. Menuju pesawat, kami dinaikkan ke mobil. Kami ada 26 orang.  Di atas pesawat, Nur Sangaji cerita tentang pengalaman dia dan teman-temannya saat dalam perjalanan dari Shirakawa, Jepang.

“Selamat datang di penerbangan Express Air bersama Kapten Joseph” kata pramugari. Namanya Imay.

“Perjalanan ini akan menempuh waktu 50 menit untuk sampai di Bandara Betoambari, Bau-Bau” kata wanita dari corong pesawat.

Di samping saya, Elizabeth Rahyu P mengabarkan kalau telah ke Wakatobi tahun lalu, untuk urusan kegiatan di Taman Nasional. Dia memang bekerja untuk satu proyek konservasi yang didukung oleh JICA Yokohama di research and action for community governanceI-I Network Bali Barat. Proyeknya telah selesai.

Waktu tepat pukul 10.30 saat pesawat Dornier yang membawa 30 penumpang meninggalkan bandara internasional Sultan Hasanuddin. Cuaca di atas Makassar berawan. Saya duduk di samping Elis. Dia sudah pernah ke Wakatobi. Duduk di depan saya, Yan Ghewa dan Jamal yang asik mengobrol. Maklum sahabat lama bertemu kembali. Di jejeran kursi duduk DJ. Di belakangnya Ashar Karateng, disusul Arrusdin Bone. Di pesawat ini ada, seorang anak kecil.

Elis cerita kalau dia tidak sempat berenang di Wakatobi. “Sibuk bicara sama Halim, sampai malam” katanya. Elis pernah kerja di Aceh. Dulu dengan proyek YAPPIKA hingga tahun 2009.

“Dalam beberapa menit lagi kita akan mendarat di Lapangan Udara Beto Ambari, Bau-Bau. Waktu kini menunjukkan pukul 11 lewat 5 menit” kata pramugari. Ini berarti kami harus bersabar untuk sampai di Bandara Matahora, Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Bersabar menunggu kesempatan untuk bisa menikmati pesona surga bawah laut itu.

Tidak sabar untuk untuk snorkeling! dan, jika sempat diving!

 

Advertisements

3 thoughts on “Gelak Tawa dari Ruang Tunggu (Wakatobi Part I)

  1. daengoprek October 9, 2011 / 10:07 am

    wow, seru juga, asik benar pergi ramai2, ditunggu foto2 yg indah dari wakatobi * ngiler juga, sudah terbayang alam wakatobi, heheh

    Like

  2. dee_evatiwery October 13, 2011 / 9:41 pm

    memulai part 1 .. dan akan membaca part selanjutnya dengan sedikit *iri … 😉

    Like

  3. Ghewa Yohanes January 12, 2018 / 2:46 am

    Membawaku kembali ke negeri yang indah hening sejuk…Wakatobi. Tks Pak Komar, ditunggu Part 2-nya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s