Bincang Pagi di Selasar Penghibur

Ivan dan Tata Ampa (Foto: Kamaruddin Azis)

Pukul 08.30, di Kayu Bangkoa Makassar, satu persatu penumpang dari pulau di barat Makassar bergegas meninggalkan dermaga. Dari sana, bersama Ivan Firdaus, senior di Kelautan Unhas, kami menuju satu kedai kopi di selasar jalan Penghibur, tidak jauh dari Makassar Golden Hotel (5 Juni 2011). Dia pesan nasi kuning, saya teh susu. Dia bercerita tentang pengalamannya yang baru saja pulau dari Pulau Gebe, di Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.

Agenda utama perbincangan kami adalah persiapan kunjungan 8  penulis internasional pada Makassar International Writers Festival (MIWF 2011) ke Pulau Barrang Lompo tanggal 15 Juni. Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas bekerja sama dengan Rumah Budaya Rumata’ yang dimotori oleh sutradara kawakan Riri Riza akan memfasilitasi kunjungan mereka ke pulau terbesar dalam wilayah administrasi Kota Makassar itu.

Ivan, alumni Kelautan Unhas adalah juga warga pulau Barrang Lompo. Diskusi kami sangat efektif. Darinya kami menyusun beberapa agenda pertemuan, partisipan, agenda keliling pulau dengan bemor, dialog dengan warga tentang situasi kontemporer pulau, dan lain sebagainya.

Cerita Tata Ampa’

Saat itulah datanglah Tata Ampa’. Lelaki dengan kumis rapi ini menjadi warna perbincangan di pagi itu. Kami mendengar ceritanya tentang Pulau Barrang Caddi, tetangga pulau Barrang Lompo. Tentang suasananya, issu kontemporer serta perubahannya kini.

Lelaki kelahiran tahun 1937 ini terlihat masih gesit. Dia lahir di Pulau Kodingareng lalu pada tahun 1962 menikah dengan Sitti, tepatnya Amma’ Sitti lalu mereka bermukim di Pulau Barrang Caddi.  Mereka dikaruniai tiga anak. Lima cucu. Dua anaknya telah menikah,satu belum. Saya mengenal lelaki ini saat masih kerap ke Pulau Barrang Caddi tahun 1997.

Saat itu Lembaga tempat saya bekerja yaitu Lembaga Pengkajian Pedesaan, Pantai dan Masyarakat (LP3M) Makassar sedang mengerjakan proyek instalasi listrik di Pulau Barrang Caddi. Bantuan hibah Pemerintah Jepang melalui Konsulat Jepang di Makassar. Bantuan Pemerintah Jepang itu rampung tahun 1997 dan diresmikan oleh Walikota Makassar,  Malik B. Masry.

“Saat ini pengelola listrik binaan LP3M itu dipimpin oleh Haji Muhsin” Tutur Tata Ampa.

“Tarif listrik dikenakan Rp. 2,500 permata lampu”. Ungkapnya. Saat saya tanyakan berapa yang dia bayar bulan lalu, Tata Ampa mengaku mengeluarkan duit Rp. 75 ribu untuk tiga mata lampu dan satu televisi.

“Lampu listrik menyala dari pukul 18.00 sampai pukul 12. 00 malam” katanya. Saat pertama berdiri tahun 1997, Tata Ampa mengaku hanya membayar Rp. 30ribu.

“Sekarang malah ada yang bayar Rp. 200ribu sebab ada kulkas dan mesin air” terang lelaki yang sebenarnya mengaku bernama asli Sampara namun di ijazahnya tertulis Syamsuddin.

Saat saya tanyakan berapa uang muka pemasangan listrik di Barrang Caddi, Tata menyebut angkat berkisar Rp. 2 Juta sementara saat pertama berdiri dulu warga hanya dipatok Rp. 50ribu. Harga ini dianggapnya sangat mahal namun begitulah kehidupan di pulau.

Selain bercerita listrik, Tata Ampa’juga bercerita tentang jumlah penduduk yang semakin bertambah. Pulau semakin sesak.

“Situasi Pulau Barrang Caddi kini sangat berubah jika dulu lokasi di barat bangunan milik LP3M terdapat hamparan pasir yang bisa digunakan main bola, kini semakin terkikis. Warga banyak yang kehilangan lahan bermukim. Untung telah dipasangi tanggul yang dibangun lima tahun lalu”  katanya.

Advertisements

2 comments

  1. semoga gerak roda ekonomi juga riuh di barrang caddi sana. karena listrik yang masuk tentu menandakan ada yang menggeliat, sebangsa usaha untuk menaikkan taraf hidup. amin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.