Suara Gaduh dari Peternakan Haji Ashar

Haji Ashar bersama Yan Ghewa

Di Makassar, di setiap sudut kota kita dapat jumpai warung ayam goreng. Mulai warung Sari Laut Jawatimuran hingga menu restoran elite. Ayam telah jadi pilihan prioritas. Untuk menyuplai beberapa warga berinisiatif membangun bisnis peternakan ayam.  Peternakan ayam ras mungkin sudah sering kita dengar namun peternakan ayam kampung relatif masih baru.

Tanggal 5 Mei 2011, Haji Ashar Karateng, seorang sahabat mengajak kami berkunjung ke peternakannya yang belum cukup setahun berdiri. Letaknya di luar kota Makassar, tepatnya di Kampung Pallantikang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa Sulsel. Tentu saja kami senang dan membayangkan betapa nikmatnya menyantap ayam kampung segar dari kandangnya.

Jarum jam menunjuk angka tujuh saat kami sampai. Di sekitar lokasi itu suasana gelap. Kami datang 11 orang. Ada saya, Yohannes Ghewa, Noni, Nur, Angga, Ruslan, DJ, Ashar, Halim, Udin, Sariamin. Berkunjung ke lokasi peternakan ini semacam refreshing di tengah acara lokakarya kami di HotelKenari Makassar.

***

“Nama kampung ini Pallantikang” kata Daeng Lurang, lengkapnya Syarifuddin Daeng Lurang yang menyambut kami bersama istirnya, Nurhayati dan dua orang anaknya. Seekor anjing penjaga berkulit hitam ikut menyambut kami. Daeng Lurang, warga Pallantikang yang dipercaya Haji Ashar menjaga lahannya seluas 1000m2. Di atas lahan itulah dua bangunan utama peternakan ayam kampung dan satu rumah istirahat berada.

Nur dan Noni menemani ibu Nurhayati menguliti ayam

Bersama Daeng Lurang dan Haji Ashar kami masuk ke kandang utama. Di bagian utama terdapat beberapa ayam Bangkok dengan bulu menawan. Hitam lebat, licin. Di bagian lain, di setiap petak kandang gantung terdapat ayam muda berusia dua bulan lebih.

“Ini disiapkan untuk bertelur jadi digabung dengan ayam pejantan. Khusus ayam kampung” Kata Daeng Lurang.

“Ide ini sudah lama namun baru bulan Agustus tahun lalu kami rintis” Kata Haji Ashar mengenai usaha peternakannya ini.

Kami pun diantar melihat lokasi pembesaran ayam DOC. “Ini berasal dari Surabaya” katanya lagi seraya menunjukkan kotak penyimpan DOC atau anak ayam muda. Perlu penangan ekstra hati-hati atas DOC ini. Itulah mengapa di kandang itu ditempeli langkah-langkah intsruktif untuk menangani ayam pemula ini.

Dibantu istri dan dua orang anaknya. Daeng Lurang sekeluarga menjadi pengeloa peternakan ayam yang mulai banyak dikunjungi orang tersebut.

Pak Angga sedang mengamati ayam Bangkok di peternakan itu

“Banyak pembeli yang datang memilih hasil pembesaran DOC ini” Kata Haji Ashar. Rupanya setelah besar DOC ini dapat menghasilkan beberapa jenis ayam seperti ayam super, ayam kampung biasa, bahkan ayam Arab.

“Bukan hanya itu, beberapa anak muda yang doyan ayam Bangkok aduan kerap datang” sambungnya.

***

Keberadaan peternakan ayam di kaki bukit kecil di Pallantikang ini menjadi oase bagi warga setempat yang dikenal masih sederhana dan jauh dari hiruk pikuk kota.

“Saat hendak ke kebun atau pulang menggembalakan ternak, warga biasanya singgah mengamati Daeng Lurang merawat ayam. Bahkan membantu membersihkan kandang” Kata Ashar yang pernah mendampingi komunitas di Pallantikang beberapa tahun sebelumnya.

Kesederhananaan warga Pallantikang di mata Ashar sangat berkesan. Menurutnya, selama berinteraksi dengan mereka banyak hal lucu sekaligus mengharukan jika dikaitkan dengan kesederhanaan dan spontanitas warga desa. Menurutnya, di desa itu seorang tua gembala terlihat dekil, lugu namun mempunyai banyak ternak sapi. Di kampung itu, warga masih menggunakan kulit buah maja (Mks: bila) sebagai penampung air minum.

***

Kunjungan kami ke lokasi peternakan ini rupanya telah diantisipasi oleh Daeng Lurang sekeluarga. Mereka telah menyiapkan 10 ekor ayam kampung berusia 4 bulanan. Nur dan Noni tidak tinggal diam, mereka ikut andil membersihkan ayam bersama ibu Nurhayati. Nur dari Gorontalo dan Noni dari Manadon tidak menyia-nyiakan keahliannya dalam membuat dabu-dabu, sambal khas dari daerah mereka.

Korban kekenyangan, ha ha ha

Daeng Lurang, dengan dukungan minimal dari para tetamu sukses menyajikan ayam panggang di atas bale-bale.  Di atas telah duduk dengan manis Ashar, Yan Ghewa dan Angga. Beberapa dari kami, seperti Saoruddin, Sariamin dan Pak Halim sepertinya bakal memilih strategi “hit and run”.  Pergerakannya layak dicurigai.

Formasi di atas bale adalah sebagai berikut: ayam masak, ati dan ampela goreng, dada dan paha ayam kampung usia empat bulan yang telah dipanggang plus sambel rica dabu khas Manado.  Sayur tumis juga ada.

Malam berpesta. Saat pembukaan makan malam itu suasana agak hikmat namun seketika menjadi gaduh karena dalam hitungan detik, potongan ayam di atas bale semakin menciut. Walau ada yang fokus bin sabar, ada pula yang buat gaduh, utamanya pemilih strategi “hit and run”. Sepertinya mereka takut tak kebagian.

Daya ledak rica dabu Manado buatan Nur dan Noni merusak konsentrasi peserta. Hidung meler dengan serapah nikmat silih berganti.  Semua meringis namun tak mau kehilangan momentum saat Daeng Lurang dan istirnya menyodorkan ayam sajian.

“O mak, pedisnya” kata Sariamin seraya menarik diri dari barisan bale-bale.

Dia bergerak ke tungku pemanggangan. Pak Halim yang memilih makan berdiri semakin tidak jelas posisinya. Satu momen di dekat bale-bale, di kesempatan lain telah ikut meramaikan antrian di pemanggangan.

Saya mesti berbagi dengan Sariamin. Paha kiri kanan. Saya juga mencolek ati dan ampela yang disodorkan ibu Nurhayati.

“Saya cuma dua potong” Kata Halim dengan mata tak berdosa.

“Saya juga duaji”, kata Sariamin. Tapi semua tak mau percaya.

Saat yang lain telah menuntaskan hasratnya di bale-bale, DJ memilih bertahan, dialah yang terakhir menyelamatkan dada terakhir pemberian Daeng Lurang.

Malam di Pallantikang jadi bukti bagaimana sisa sambel rica dan tulang ayam panggang muda hanya membisu.  Semua kenyang, semua bahagia di lokasi peternakan yang nampaknya sangat prospektif di masa depan ini.

Tertarik untuk pesan ayam kampung dari sana?

Sungguminasa, 08/05/2011

5 thoughts on “Suara Gaduh dari Peternakan Haji Ashar

  1. Peternakan ayam kampung Pung.Aji Ashar ada Potensi jadi Peternakan Ayam Kampung terbesar di Sul-Sel……

    Semoga Bisnis Ayamnya Lancar spya bisa makan ayam Kampung tiap Minggu..emmmm mantap
    amien..!!

    Like

  2. wah seru juga makanG-makanGnya, ayam kampung per ekornya di sana berapa kakak?, :D, kayakna bagus tongji adakan kopdar AM di sana, patungan beli ayam. mantap mentong tawwa, salamku untuk Daeng Lurang, and SADAMDA BASEMEN, :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: