Menyoal Tukang Parkir

Cerita tentang bengalnya tukang parkir di kota mungkin sudah sering didengar, dibahas atau dikeluhkan. Maraknya perparkiran illegal (tanpa karcis) dan ragam tukang parkir dari berbagai kalangan kerap buat jengkel para pengendara atau pemanfaatan fasilitasi publik.

Tapi, pengalaman pagi ini menggelikan. Di halaman parkir satu usaha cuci foto di Sungguminasa, Gowa, saya merasa bersalah. Bersalah pada seorang tukang parkir cilik. Bukan karena tidak memberinya uang parkir tapi cara saya memandangnya dan memberinya teguran.

Saat selesai urusan dengan kasir, saya bergegas ke tempat parkir.

Sadel motor saya telah ditutupi oleh tiga helai kardus. Sejak kapan mulai ada tukang parkir di tempat sekecil ini? Saya pindahkan kardus itu dan pritttt…pritttt. Seorang anak kecil, dengan sempritan di tangan mendekat. Belum sempat menengadahkan telapak tangannya saya sudah beri kata sambutan.

“Siapa suruh jadi tukang parkir di sini?” Tanyaku.

“Boska…bosku” jawabnya ringan. Maksudnya ada bos yang memberinya perintah.

“Bos?”.

“Beritahu bosmu, kamu tidak boleh jadi tukang parkir di usia begini. Kau harus sekolah” Pesanku.

“Saya sekolah siangji” Tangkisnya.

“Tidak…” Kataku seraya main ujung telunjuk, saya tidak memberinya uang.

Saya naik motor dan mengarah ke rumah. Belum sampai 100 meter dari tempat parkir tadi saya berpikir. Ah saya merasa bersalah.

“Tidak boleh menggertak anak kecil. Siapa tahu dia anak yatim atau piatu?” Batinku.

“Wah…”. Saya merasa berdosa tidak memberinya uang parkir. Saya putar haluan.

Dia melihat saya datang. Dia diam. Saya lalu panggil dan menyisipkan dua uang koin limaratus rupiah plus pesan: “Maaf nah, lain kali beritahu bosmu, kau harus sekolah”. Dia tersenyum.

Saat saya kembali ke rumah, saya teringat wajah anak tadi. Rupanya dia pula yang kerap ngetem di depan BNI Sungguminasa. Di tempat itu, sebenarnya tukang parkir hanya ada saat hari kerja Senin-Jumat. Kini, telah ada tukang parkir lain, seorang lelaki tinggi besar. Siang, malam, hari kerja hingga hari libur.

Saat lelaki itu tidak ada, kerap ada anak kecil yang menggantikannya.

Dan, saya belum pernah memberi sepeser sen pun demi parkir, dengan beragam dalih.

***
Tapi ini bukan yang pertama.

Minggu lalu, di depan salah satu bank pemerintah di jalan Veteran Selatan, Makassar saya dapat kenyataan yang sama.

Saat keluar dari bank tersebut, seorang anak datang mendekat. Dia bunyikan sempritan. Tapi dia dapat pertanyaan dan nasehat.

“Siapa yang suruhko?” Tanyaku.

“Wawan (bukan nama sebenarnya)!” Jawabnya dengan bola mata berputar. Anak ini lucu sebenarnya. Menggemaskan, kata orang-orang.

“Berapa kau dapat?” Tanyaku lagi.

“Saya bagi dua, 60 – 40″ katanya sok tahu”. Saya tertawa. Bagi dua? 60-40?

“Manami dia?” Tanyaku lagi.

Si kecil menunjuk ke seberang jalan, saya mengikuti jarinya tapi tak satu orang pun yang nampak.

“Saya tidak bayar kalau tidak ada karcismu. Kau punya?” Tanyaku.

Dia menghindar seperti ayam jantan kena sepakan. Seraya menjauh dia memberiku senyum, semacam cengiran.

***
Usaha parkir sepertinya semakin menjadi pekerjaan mudah. Semua kalangan, semua umur berlomba menjadi tukang parkir. Anda mungkin pernah mengalami, saat ambil uang di ATM, dalam beberapa detik saja Anda harus merogoh seribuan untuk si tukang parkir. Di bank, kantor-kantor, pusat keramaian, perbelanjaan dan di beberapa tempat strategis, keberadaan tukang parkir semakin nyata.

Tukang parkir tanpa karcis sepertinya lebih banyak dari yang berkarcis. Di sisi lain, mereka juga kerap memaksa dan kerap cari gara-gara. Menyaksikan tukang parkir kanak-kanak sebenarnya buat prihatin, namun begitulah kenyataannya, sepertinya ada kekuatan lain yang mengendalikannya.

Sebagai bagian dari wajah administrasi publik, mestinya keberadaan mereka mesti diatur dengan tepat dan bijaksana. Sebab jika dibiarkan, suatu ketika anak-anak itu tak terurus dan kota ini akan dikuasai oleh preman, kesewenang-wenangan, dan orang-orang yang dimanja oleh bunyi sempritan.

Asdar Muis RMS, satu penyair kawakan Sulsel bahkan memberikan penekanan bagaimana tukang parkir menjadi semakin tidak demokratis dan menggangu. “Mereka semena-mena menarik uang parkir” pekiknya.

Lalu, siapa peduli?

Sungguminasa, 17/04/2011

Advertisements

2 comments

  1. memang dilematis. namun menurut saya kt sbg pelanggan harus tegas; kalau tidak begitu mrk akan lebih enak jadi tukang parkir dan malas sekolah.

    cara saya dingin dan gak berperikemanusiaan? Mungkin. makanya itu tadi, dilematis 😦

    Like

  2. yang ndak suka itu, kalo tukang parkirnya hanya jadi tukang sumprit tidak benar-benar jaga kendaraan kita. eh ujuk2 sudah datang pas mau pulang. minta duit dan sumprit sekenanya.

    Kalo anak kecil? tiap hari di kota ini pemandangan anak kecil mempertaruhkan hidupnya entah itu suruhan atau bukan sepintas membuat kita selalu miris.
    Kadang sering tanya seperti daeng bilang, mereka jawabnya seragam, sekolahnya siang atau sore, atau bilangnya sudah pulang sekolah.
    Disuruh siapa? orang tuanya, katanya tidak cukup duit dari ortunya untuk sekolah.

    Kalo seperti itu kadang pun akhirnya saya berfikir sepertinya sudah menjadi profesi yang harus dipermaklumkan buat anak kecil.

    Lagi2 hanya bisa ikut “prihatin” seperti presiden RI.. 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.