Sosok Langka, Deniek G. Sukarya

Deniek menunjukkan kamera Sony-nya yang wah!

Kenal Deniek G. Sukarya? Jika mengaku fotografer maka rasanya belum lengkap jika belum mengenal sosok yang langka ini. Lelaki kelahiran tahun 1954 ini telah berkeliling Indonesia sejak tahun 1977 untuk profesi yang ditekuninya sebagai fotografer. Dia fotografer kelas atas Indonesia.

Dia hadir di Makassar pada acara “Two Days for Photography” yang dibesut oleh UKM Seni dan Budaya Talas yang didukung oleh Tribun Timur, LA Lights, Davin Photography dan Elegant Photography. Fotografer, pengelana, penulis buku dengan penguasaan teknik fotografi yang sangat fantastik ini hadir sebagai salah satu pembicara utama dalam acara yang berlangsung dua hari itu.

***

Deniek lahir di pulau Dewata dan merupakan penulis buku “wajib” kenegaraan yang berjudul “Harmony in Diversity”. Ini salah satu master piece-nya yang kemudian menjadi milik pemerintah Indonesia untuk dibagikan ke beragam tamu kenegaraan.

“Buku ini menjadi cinderamata resmi pemerintah, a gift untuk tetamu negara”, kata Deniek. Proses kelahiran dan bagaimana buku ini menjadi pilihan pemerintah sangat menarik.

“Ini merupakan proyek kerjasama dengan Kalbe Farma, saat perayaan ulang tahun mereka. Salah satu gagasannya adalah bagaimana menceritakan Indonesia dengan segala kelebihannya di tengah deraan konflik dan krisis,”. Katanya mengurai.

“Awalnya pihak yang ingin memberi kata pengantar adalah Menteri Pariwisata Jero Wacik, namun oleh Deniek dianggap “biasa” saja. Dia ingin memperoleh sesuatu yang berbeda.

Pertemanannya dengan Dino P. Jalal, mantan juru bicara Presiden memberinya kesempatan untuk menyampaikan keinginannya agar SBY mau memberi kalimat pengantar.  Dalam tempo yang tidak terlalu lama, setelah SBY melihat isinya, foto Deniek dan konsep yang diusung buku ini maka jadilah berganti nama menjadi “representasi” Indonesia, “Harmony in Diversity”.

Deniek memperllihatkan bagaimana isi buku itu dimulai oleh nama SBY. “Sebagai buku negara, maka tidak boleh ada nama lain di halaman depan. Maka jadilah buku itu buku negara dimana hanya ada nama Presiden di situ sebagaimana aturan istana,” Kata Deniek.

Buku “Harmony in Diversity” yang dinarasikan dalam bahwa Inggris oleh Dr. Vivek R. Bammi, seorang Doktor dan guru di Sekolah International di Jakarta, dapat menjadi bukti bahwa sebenarnya Indonesia adalah negara dengan sejuta potensi dan daya tarik kebudayaan serta kemanusian. Buku ini lahir dari pengembaraannya mendokumentasikan keragaman budaya, alam dan toleransi sosial. Koleksi foto-foto di dalam buku itu sangat mengagumkan.

Buku lainnya adalah “Enchanted Mounts”, “Orang Biasa”, “The Poetry of Nature”,  dan “A Gift to The World”, sebagaimana yang Deniek paparkan di http://www.denieksukarya.com.

Sisi Humanis

Deniek mempunyai kedalaman apresiasi bagi budaya Indonesia. Sebagai orang Bali yang sangat “Indonesia” Deniek mempunyai minat yang dalam pada human interest, alam dan kepedulian sosial.

“Beberapa tahun silam kita masih menikmati senyum ramah dari warga, tapi kini saat berhadapan dengan tukang becak sekali pun, mukanya kerap kusut, susah”, katanya saat menceritakan perubahan sikap dan betapa semakin tertekannya suasana kebatinan masyarakat kita kali ini.

Selain menyukai human interest, Deniek menyukai alam. Deniek muda pernah tinggal di kaki gunung Merapi saat masih kuliah di Yogyakarta. “Saya sengaja pindah ke Kaliurang. Saya jatuh cinta pada gunung Merapi”,  katanya.

Saat mengisahkan bagaimana konsep buku “Indonesia In Harmony”, yang merupakan buku “wajib” yang diberikan oleh SBY ketika menerima tamu mancanegara. Konsep buku itu untuk menunjukkan ke berbagai pihak bahwa Indonesia memang negara yang kaya potensi sumberdaya alam dan sosial budaya.

“Buku ini menjawab semakin gencarnya pertentangan politik, demam demokrasi, apa-apa di demo, semua didemo, sepertinya rasa harmonis mulai hilang padahal Pancasila adalah kompromi. Kini, sedikit-dikit, orang mempertentangkan sistem liberal, islam dan lain-lain.

“Terkait tahapan dan teknis penyusunannya saya harus memikirkan bagaimana transformasinya, bagaimana menset harmoninya, bagaimana seleksi, kategori, dll,” Katanya ihwal buku Harmony in Diversity ini”

“Ada ribuan koleksi foto saya yang mesti diseleksi jadi seratus foto,” Katanya.

Masih Ada Yang Baik

Dalam perjalanannya ke berbagai belahan Indonesia sejak tahun 1977, dia masih menjumpai sikap santun dan bersahabat. Tapi itu lebih banyak di pelosok dan daerah kumuh.

“Masih ada warga yang tinggal di kumuh tapi ramah sekali, seperti saat saya berkunjung ke daerah Sunda Kelapa,” Katanya. “Teman Amerika saya sempat kuatir saat berkunjung ke daerah begitu namun kemudian dia memperoleh kesan baik, dia diterima warga dan jadinya akrab.

“Jadi tidak ada lagi pertanyaan, “ini alirannya apa?”, semua atas nama kemanusiaan.” katanya.

“Ada pengalaman menarik yang sempat direkamnya sebagai toleransi antar umat beragam sebagaimana terlihat di Kota Kudus.

“Mereka tidak makan sapi tetapi kerbau, demi menghargai orang Hindu “. Kata Deniek.

Banyak foto yang ditampilkan Deniek menunjukkan keagungan toleransi, keindahan geografis dan dapat menjadi bukti keindahan Indonesia. Beberapa fotonya malah diambil dari sekitar rumahnya.

“Saat memotret, saya nyaris tidak ada ide yang saya bawah dari rumah, apa yang saya rasa, saya renungkan atas nama kata hati,” ungkapnya.

“Saya berteman dengan Nek Roret di Toraja. Dan beliau pernah masuk majalah Garuda pada tahun 1995. Lalu nenek itu bercerita tentang dirinya di majalah. “Saya tidak bilang bahwa sayalah yang menulis tentangnya” Kata Deniek.

Deniek juga bercerita bagaimana pihak lain memberi bantuan atau perlindungan lebih baik dari pemerintah kita sendiri.

“Ada satu desa di pedalaman Kalimantan yang saat terjadi kebakaran hutan, justeru dibantu oleh salah satu LSM Internasional dan donor. Mereka dipindah dan diberi makanan selama beberapa waktu oleh pihak luar ini pada tahun 2002, padahal konon propinsi di sana kaya-kaya” Kata Deniek.

Bantuan oleh pihak luar kepada warga Dayak itu oleh Deniek membuatnya bertanya. “Kenapa mereka lebih dihargai orang luar, kalau pemerintah daerah miskin nda apa tapi ini kan kaya,” tanyanya soal perhatian pemerintah di Kalimantan itu.

***

Saat menjelaskan proses kreatifnya sebagai fotografer di depan peserta diskusi di Auditorium Al Amien, Unismuh, Deniek menunjukkan karya-karyanya yang fantastik seperti tampilan “penari pembuat tari pendet,  di tahun 1989, Nek Mirenek. Juga beragam candi eksotik seperti Prambanan, Borobudur,  Tana Toraja, Ponorogo, pengantin di pelaminan yang diambilnya di Sengkang, Wajo.

Di sela makan siang, dia bercerita betapa pentingnya mengutamakan kata hati, mata batin dan sisi kemanusiaan kita saat menulis atau mendokumentasikan sesuatu. “Gunakanlah hati nurani saat menyampaikan atau memaparkan sesuatu, termasuk memotret,” Itu pesannya, pesan yang jarang kita dengar lagi di tengah gencarnya komersialisasi dan pincangnya daya kreasi kemanusiaan kita.

Sungguminasa, 27/02/2011

3 thoughts on “Sosok Langka, Deniek G. Sukarya

  1. Syukurlah, buku fotografix buku wajib bagi saya. Teman2 disini digilir utk membaca n memahamix! Menyesal ga bs ikut acarax! Untung ada tulisan ini!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: