Belajar Manajemen, Menjawab Tren Perubahan

Bersama teman kelas konsentrasi "Manajemen Strategik" angkatan XXXI

“Ada tiga pekerjaan sangat prospektif saat ini: dokter, pengacara dan konsultan proyek,” kata Tadjuddin Parenta, dosen Fakultas Ekonomi UNHAS pada pertengahan tahun 90an. Menurut beliau, ini didasarkan pada perspektif nilai income dan kebutuhan pasar terhadap ketiganya. Alasannya, pertumbuhan penduduk dan dinamika sosial, pasti membutuhkan antisipasi dan solusi. Nah, ketiganya ini yang paling dibutuhkan.

Itu yang saya ingat dari interaksi dengan beliau saat kerap main tenis di lapangan tenis Kampus UNHAS Tamalanrea antara tahun 1993-1998. Diskusi di lapangan tenis itu akhirnya menyimpulkan bahwa pekerjaan apapun jika pekerja atau “alumni” tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman maka dia akan ketinggalan. Perubahan eksternal di ranah organisasi berkembang sedemikian pesat oleh karena itu dibutuhkan metodelogi untuk mengantisipasi setiap perubahan tersebut. Bangku pendidikan adalah jawabannya.

Di lapangan tenis itu pula saya sempat salaman dengan Taslim Arifin, Hamid Paddu, pak Yansor, pak Herry dan beberapa dosen ekonomi lainnya. Mereka menaruh minat bermain tenis walau tidak bertahan lama (hanya beberpa kali main dan berhenti). Dari perkenalan itu, diam-diam saya juga menaruh minat untuk belajar Ilmu Ekonomi. Membaca track record mereka dan mengaitkannya dengan relevansi fokus pekerjaan saya pada pengembangan kapasitas ekonomi masyarakat pesisir menjadi clue ketertarikan.

Tapi minat itu disimpan karena sejak tahun 1999-2008, atau sembilan tahun saya bekerja di luar di Makassar. Kesempatan untuk studi tak terpenuhi. Saya bekerja di Selayar, Luwu-Luwu Utara dan Aceh. Sejak gagal berangkat ke Bremen, tahun 2003 untuk mengikuti kursus pengelolaan pesisir, “Integrated Coastal Zone Management”, gairah untuk sekolah lagi nyaris padam. Namun saat kembali bekerja di Makassar pada pertengahan tahun 2008 untuk proyek pengembangan kapasitas pembangunan se-Sulawesi, gairah itu muncul lagi.

Belajar Manajemen

Kompetisi di bursa kerja membutuhkan kompetensi, yaitu relevansi pengetahuan, keterampilan dan konsistensi pada tujuan pekerjaan. Perpaduan antara pengalaman lapangan dan polesan metodelogi (empirik) merupakan kombinasi yang apik untuk kontributif dan efektif di berbagai ranah pengabdian.

Sekolah lagi rasanya menjadi niscaya. Itulah mengapa beberapa alumni memilih studi lanjutan di dalam negeri atau bahkan berburu beasiswa ke luar negeri demi alasan itu. Dengan bersekolah lagi, kapasitas individu menjadi semakin terasah dan siap menjawab tantangan pekerjaan atau situasi. Pada konteks ini, tentu beda, bagi yang bersekolah jika hanya mengejar gelar.

Awalnya sempat skeptis, karena saya merasa pendidikan S1 di Ilmu Kelautan tidak relevan untuk belajar Manajemen namun dorongan untuk mampu menganalisis “what-know-how-why” fenomena ekonomi di bangku kuliah begitu menggoda. Saya pun mesti menyiasati waktu kuliah dengan mengambil sesi Sabtu-Minggu. Nyaris tanpa alpa.

Belajar Sabtu-Minggu pun terasa mengasikkan karena beberapa teman menyiasatinya dengan mengisi waktu untuk menjalin keakraban; makan bareng, bernyanyi hingga rekreasi pantai. Menyenangkan punya banyak kawan dengan latar belakang pengalaman dan pekerjaan.

***

Sejak mulai belajar Ilmu Ekonomi di Kampus Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi, Kandea antara tahun 2009-2010, saya menemukan ruang luas yang disiapkan oleh tenaga pengajar untuk reflektif pada pengalaman dari masing-masing mahasiswa melalui tugas dan diskusi kelas. Diskusi semakin fokus saat pindah dari semester 1-2 yang mengupas “Teori Ekonomi hingga Ekonomi terapan” ke ke semester tiga yang dikhususkan pada manajemen strategik, konsentrasi Keuangan dan SDM. Lebih elaboratif dan kasuistik.

Di sana, utamanya di kelas “Manajemen Strategik”, mahasiswa datang dari berbagai latar belakang seperti pegawai pemerintah propinsi, karyawan bank seperti BCA, Lippo, BPD Wajo, karyawan perusahaan seperti INCO, pegawai LAN, Bulog hingga Coca Cola. Beragam latar belakang ini merupakan sumber informasi yang sangat menarik untuk dielaborasi dan mengaitkannya dengan perspektif manajemen strategik. Ada refleksi, dialog dan analisis pada pengalaman masing-masing.

Dipandu oleh dosen berpengalaman yang eksis di berbagai institusi (internal dan eksternal kampus), alur studi menjadi begitu dinamis. Di kelas, mahasiswa bisa berdialog dengan dosen senior seperti Prof Basri Hasanuddin, Prof Burhamzah (almarhum), Prof Asdar, Prof Osman, Prof Otto, Prof Haerani dll serta dosen yang giat di berbagai bidang dan media seperti Prof Rahman Kadir, Prof Haris, Dr. Idrus Taba, Dr. Syarkawi Rauf, Dr. Ismail dan banyak lagi.

Begitulah, tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi pengalaman pribadi dan dinamika selama mengikuti kelas Sabtu-Minggu, Magister Manajemen di Fakultas Ekonomi UNHAS sekaligus ajakan bagi kawan-kawan yang biasa bergelut di ranah pemberdayaan masyarakat (ekonomi – politik), seperti NGO dan pengelola bisnis skala kecil – menengah selain berguna untuk mengembangkan kemampuan analisis/metodologi atau riset ekonomi kontemporer juga sebagai upaya meningkatkan kapasitas personal dalam menjawab tren perubahan eksternal yang memang semakin sulit diprediksi.

Ayoooo, sekolah lagi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.