Mengejar Idola Hingga ke Belakang Stage

Bersama Sang Idola (Foto: Kamaruddin)
Saya dapat undangan hadiri pesta ulang tahun ke-7 Tribun Timur mewakili Ikatan Sarjana Kelautan Unhas (ISLA). Satu tahun terakhir ada beberapa berita kegiatan ISLA dan opini saya terkait issu Kelautan kontemporer mendapat tempat strategis di laman koran cetak populer ini. Koran yang terkoneksi ke perusahaan koran nasional Kompas ini.

Dalam ruangan, kami duduk di deret keempat dari depan. Bersama istri dan seorang kerabat bernama Amelia, kami mengambil posisi sebelah kiri. Di luar ruangan, pengunjung masih menikmati sajian makan malam yang disiapkan panitia. Waktu sudah pukul 19.40 saat kami masuk di ruangan pesta ulang tahun Tribun Timur, Jumat malam tanggal 11 Pebruari 2011. Saya mencoba mengambil jarak terdekat.

Ada agenda lain yang saya coba sisipkan; menyimak atau jika mungkin bersitatap dengan Pinkan Mambo, penyanyi idaman yang akan tampil di acara spektakuler tersebut. Ya Pinkan Mambo, mantan pasangan Maia di Dua Ratu ini membuat saya ketar-ketir jika mendengar tembang andalannya: Salahkah Bila Mencintaimu (2003), nun jauh dahulu.

Pinkan in Action di Pesta Ultah Tribun Timur (Foto: Kamaruddin Azis)
Suara basah dan seksi Pinkan dilagu itu begitu menyiksa perasaan. Merobek-robek zona aman di usia tiga puluhan. Dan saat di atas stage, saya beberapa kali mencuri matanya, menyambut pertanyaannya ke audiens dan dia menatapku. #peluk tiang listrik…

***
Tahun 2004-2005, saat bekerja untuk proyek “Success Alliance” untuk pengorganisasian petani kakao di Luwu dan Luwu Utara saya tinggal di kota Palopo. Kantor proyek di Kompleks BTN Merdeka dan rumah tinggal di Kompleks Pajalesang. Karena akses internet masih sangat terbatas dan mahal saya lebih banyak dengar lagu di radio, saat di rumah dan di kantor.

Nah, lagu di atas yang entah mengapa selalu saja diputar dan selalu mendengarnya koinsidens. Entah saat di Palopo, saat perjalanan naik mobil ke Masamba Luwu Utara, hingga naik bus ke Makassar,. Lagu itu selalu saja mengejar lamunan saya. Mengusik rasa kantuk. Gegara Pinkan, untuk mendengarnya, saya pun mesti beli walkman!

Memikat tetamu (Foto: Kamaruddin Azis)
Pinkan, adalah juga penembang lagu “Cinta Tak Kan Usai” dan “Dirimu Dirinya“, dua lagu yang asik didengar saat tanggal tua. Saat godaan kehilangan fokus menghadang. Saat persediaan logistik cekak. Saat masih bekerja di Aceh tahun 2006-2008, saya punya koleksi CDnya (compact disc, bukan yang lain). Mendengarnya pun kerap dengan memasang headset lalu tertidur di samping laptop yang menderu karena kipas yang bekerja keras. Begitulah kedekatan kami.

Lalu, minggu lalu seorang teman di Tribun Timur mengirimkan kabar, ada undangan untuk saya di acara Ultah dan you know what? Live performernya adalah Pinkan Mambo. Wow!

Begitulah, siasat pun dipasang. Saya mencoba duduk sedekat mungkin dengan stage. Hendak menikmati penampilannnya dan tentu saja gayanya yang konon menurut orang-orang superyahud (dari infotainment). Saya ingin lebih dekat dengannya.

Saya tidak sendiri. Malam itu pejabat-pejabat teras Pemerintah Propinsi dan Kota Makassar bahkan politisi seperti dibius oleh atraksi Pingkan Mambo. Saya kira ada 10 lagu yang dibesutnya malam itu. Dengan dibalut baju minim warna pink, Pinkan Mambo sukses menyisir malam dan menyihir kerja otak kiri para tetamu.

Saat lagu, “Dirimu Dirinya” disenandungkannya saya bergerak ke bibir panggung. Memotretnya dengan gagap dan mencoba mengambil momen terdekat. Memotretnya. Merekam geraknya. Kami hanya berjarak satu meter saat diamendekatkan wajahnya ke barisan penonton yang mulai merangsek seperti cacing kepanasan. Dan, Pinkan tetap dengan pesonanya. Sensual.

Hampir saja saya naik ke panggung, Tidak kuat, namun tiga bodyguard telah duduk di tangga naik. Aduh!

Lima menit sebelum Pinkan benar-benar menyudahi shownya, saya menuju ke sisi kanan stage,”Pak, boleh ke belakang panggung ya…?” Kataku pada bodyguard setinggi saya. Dia memandang dingin dan memberi jalan (dia pasti melihat bintang di mata saya).

Rupanya di belakang stage telah hadir dua puluhan penonton. Mereka menunggu juga. Ada yang bawa kamera besar dan juga hape. Mereka telah menyiapkannya .

Kamera Nikon D3000 di tangan, saya tes, ceklek, ceklek. “Tapi, nanti siapa yang foto saya dengan dia?”. Ah tidak mungkin. Strategi diubah. Saya menuju tangga turun yang sangat sempit. Di sana sudah ada dua bodyguard. Belum sempat berpikir panjang, saya onkan kamera Blackberry. Ready to shoot!

Beberapa orang mulai merangsek. Pinkan turun stage diapit tiga bodyguard. Dua di kiri kanan, satu di belakang. Saya menghalang jalannya.

Hi, foto ya,” Kataku. Dia menatap dengan senyum khasnya. Dia melangkah. Bodyguard terus mengapitnya seperti tidak memberi kesempatan. Saat lima langkah dari tangga saya bilang: “Please…”. Dia lalu mendekat, mendekatkan kepalanya ke saya dan alamak!…ceklek!

7 thoughts on “Mengejar Idola Hingga ke Belakang Stage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: