Senjata Om Gun

Antara tahun 2001-2003, anak lelaki ini hanya berteman gitar. Dia bukan tipe yang sibuk atau suka cari perhatian sebagaimana anak baru gede. Setiap sore, dia habiskan waktu di teras rumahnya saja: main gitar. Kakaknya yang perempuan, nyaris tak pernah berlama-lama di luar rumah kecuali jika diundang belajar kelompok. “Anak rumahan,” kata anak muda saat ini.

Yang ketiga, hanyalah anak SMP yang sekilas tidak terlalu istimewa, biasa saja. Sementara yang sulung, masih belum genap lima tahun. Anak-anak itu, utamanya si sulung sangat manja pada ayahnya. Mereka sangat kompak. Di rumah itu, mereka ada enam orang. Rumahnya ada di sebelah timur Kota Benteng, Selayar. Rumah yang sederhana.

***

Sebelas tahun kemudian, ini situasinya. Si sulung kini jadi PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar, dia menyabet gelar sarjana kimia dari UNM Makassar dan bergelar magister. Yang kedua si pemain gitar, pemalu dan irit bicara sebentar lagi jadi dokter gigi, lulusan UNHAS. Yang ketiga, kini menunggu gelar sarjana teknik, juga di UNHAS. Si bungsu, telah masuk SMP dan konon, selalu terdepan dalam prestasi sekolah.

Selama tinggal di rumahnya antara tahun 2002-2003, saya menemukan satu interaksi komunikasi yang hebat. Si ayah yang bekerja di beberapa dinas dan kantor badan ini hanyalah lulusan SMA. Tapi dia adalah sosok yang gigih, sederhana dan perhatian, juga tegas. Istrinya, guru SMP, pegang mata pelajaran Matematika. Irit bicara. “Sederhana saja,” Katanya pada suatu ketika.

“Anak-anak harus disayang, diberi kesempatan bicara dan kita buat bargaining” Katanya. “Maksudnya, okelah jika mereka minta ini, minta itu tapi dia juga harus dengar saya,” Katanya lagi. “Kami akan coba semampunya untuk memenuhi keinginannya,” sambungnya. Tapi, jangan coba-coba lawan tawaran baik dari kami. Benar saja. Saat anaknya minta play station dia belikan. Saat anaknya minta gitar, dia belikan. Saat yang kedua, minta motor dia belikan. Saya ingin puaskan maunya anak-anak. Kami yang mengalah. Tapi setelah itu, mereka harus dengar saya. “Itu saja resepnya,” lanjutnya. ”

Silakan main PS-2, silakan menyanyi, silakan naik motor tapi kita buat kesepakatan. Kapan saatnya main, belajar, membaca, dan istirahat,” Ungkapnya lagi. Inilah senjata Gunawan, sahabat saya ini. Saya memanggilnya Om Gun. Istrinya, rasanya pengayom anak-anak yang baik. Dia selalu telaten merawat dan memanjakan anaknya.

Saya beruntung bisa memperoleh pelajaran bagaimana mereka merawat komunikasi, perhatian dan respek antar saudara, dan tentu saja sikap anak ke orang tua. Saya selalu bahagia jika ada kunjungan ke Selayar.

Selalu ingin segera menikmati rumah panggung yang dipadukan dengan dinding batu dengan lima kamar tidur ini. Rumah yang telah membesarkan empat anak-anak yang luar biasa ini. Saya selalu ingin menikmati sore di beranda rumah itu dengan suguhan teh hangat seduhan sang ibu guru, plus pisang goreng atau sesekali sukun goreng. Rasanya sulit terlupakan. Apalagi ditemani anak-anak yang sangat cerdas dan sayang orang tuanya itu.

Membahagiakan jika mengingat keluarga sederhana namun semerbak oleh prestasi anak-anak muda di dalamnya. Sangat senang menyaksikan anak-anak itu yang nyaris tak terdengar suaranya saat saya dan Om Gun saling berbalas kata. Ada respek dan patuh di sana.

Sungguminasa, Tue, Jan 25, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: