Merawat Spirit Kelautan dari UNHAS

Maxi T. Tjoadi, Muchsin Situju, Iqbal Burhanuddin adalah tiga alumni pertama Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Universitas Hasanuddin yang diwisuda pada tahun 1993.

Sebelumnya, di pertengahan tahun 1988, UNHAS bersama IPB di Bogor, UNPATTI di Ambon, UNRI di Riau, UNDIP di Semarang, dan UNSRAT di Manado dirangkai dalam satu program nasional “Proyek Pendidikan Ilmu Kelautan” atau Marine Science Education Project MSEP yang dibiayai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB). Miliaran dana dibelanjakan untuk persiapan, implementasi, rekrutmen konsultan hingga evaluasinya.

Pemerintah sadar bahwa potensi kelautan yang besar adalah modal utama. Lalu beragam program peningkatan kapasitas sumberdaya manusia di bidang kelautan pun dibesut. Setelah membangun fasilitas perkuliahan di Tamalanrea, marine station di Pulau Barrang Lompo serta infrastruktur penelitian yang standar, minat para siswa menengah atas dari berbagai wilayah Indonesia pun semakin tinggi, utamanya dari belahan timur Indonesia.

Semasa kuliah, beragam penelitian kelautan diikuti seperti “Sandipati Bahari” yang meriset potensi Selat Makassar, Translokasi Kima kerjasama dengan organisasi World Wide Fund di Taka Bonerate, program magang di PT PAL Surabaya hingga di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) di Jakarta.

Untuk dapat pekerjaan, ketiga alumni yang disebutkan di atas tidak butuh waktu lama.

Karena kemampuan akademik dan minat yang kuat, Maxi jadi karyawan bank pada salah satu bank swasta di Jakarta, Muchsin jadi staf jurusan Ilmu Kelautan walau kemudian lebih dikenal luas sebagai salah satu instruktur selam berpengalaman. Dia juga mengelola satu usaha penyelaman yang melayani wisata bahari.

Iqbal Burhanuddin jadi dosen di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan bahkan kini telah menggondol gelar Professor. Peraih pertama dari alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan. Ketiganya mempunyai keahlian dasar yang mumpuni, berprestasi di olahraga kempo dan selam!.

Sebagai manifestasi pola ilmiah kelautan UNHAS, saat kuliah pada rentang tahun 1988-1993, ketiganya diasuh-ajar oleh dosen berpengalaman dari tiga fakultas. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dari khususnya jurusan biologi, Fakultas Peternakan (oleh dosen dari Jurusan Perikanan), dan Fakultas Teknik (Jurusan Geologi).

Mata kuliahnya pun beragam, mulai dari biologi, geologi laut, hidrodinamika, meteorologi hingga Instrumentasi Laut, budidaya kerang, budidaya rumput laut dan lain sebagainya. Setamat kuliah, mereka diganjar gelar Sarjana Teknik (ST). Ini dipilih setelah pihak universitas memberi opsi ke mahasiswa, menggunakan gelar Sarjana Perikanan (S.Pi) atau Sarjana Teknik (ST) atau gelar lainnya.

Para aktivis kampus, yang bergiat di Senat Kelautan dan himpunan mahasiswa Kelautan Indonesia atau HIMITEKINDO punya andil atas gelar “win-win solution” ini.

Para aktivis inilah yang menjadi jangkar, pembawa spirit Kelautan ke dunia baru mereka pasca kuliah. Pada tahun-tahun pertama, mereka percaya bahwa modal semasa mengikuti musim akademik sudah layak untuk menasbihkan diri sebagai sarjana Kelautan, sarjana yang berbeda dengan disiplin ilmu lainnya.

Beberapa tahun kemudian, gelar sarjana itu diuji di ranah publik. Banyak pihak utamanya penyelenggara rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) melihat bahwa transkrip mata kuliah dan gelar tidak relevan. Beberapa lulusan hingga tahun tahun 1997 mulai berhadapan dengan gaya birokrasi dan sistem rekrutmen yang butuh akreditasi, kejelasan gelar dan relevansi keilmuan.

Tapi, interval waktu di tangan alumni tidak berhenti di situ. Terus berdetak. Perjuangan mereka untuk eksis di berbagai ranah dan tingkat pengabdian terus berjalan. Tidak perlu dikomando, mereka menyusup di berbagai bidang.

Terbukti bahwa kemudian, ada beberapa alumni yang menjadi PNS juga di beberapa unit pemerintah kabupaten/kota, staf Departemen Kelautan dan Perikanan di Jakarta maupun daerah, menjadi peneliti Kelautan maupun sebagai staf organik di lembaga riset seperti Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi(BPPT), Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP). Beberapa mahasiswa yang sejak kuliah sangat mendalami kajian “teknologi kelautan” kini bekerja pada perusahaan instalasi, riset dan pengembangan potensi Kelautan seperti di kontraktor, perusahaan minyak dan gas maupun perusahaan konsultan lainnya.

Perjuangan untuk mengabdi pada bidang kajian dan aplikasi pengetahuan, keterampilan Kelautan terus berkobar.

Mereka tidak berhenti walau gelar “Sarjana Teknik” di ijazah mereka ditolak oleh beberapa “lembaga pemerintah”, utamanya pada pemerintah kabupaten/kota yang belum paham esensi dan urgensi sarjana Kelautan dalam pembangunan daerah mereka. Butuh beberapa tahun untuk mengubah gelar sarjana teknik (ST) menjadi S.Kel atau Sarjana Kelautan. Bukan hanya gelar tetapi mengklarifikasi image tentang spesifikasi dan keahlian utama para alumni ini.

Menurut informasi dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP UNHAS), hingga Desember 2010, terdapat 894 alumni Ilmu Kelautan plus (Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan).

Mereka eksis di jalur kegiatan berbasis Kelautan, sebagai perencana di instansi pemerintah, korporat perminyakan, praktisi pariwisata bahari, fasilitator program kelautan yang tentu saja lekat dengan spirit dan optimisme Kelautan.

Spirit yang dimaksud adalah semangat dan solidaritas yang kuat untuk mengarusutamakan (mainstreaming) pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut berdasarkan pendekatan keseimbangan ranah sosiologis, ekologis dan ekonomis. Spirit yang coba menggairahkan revolusi biru ekonomi Indonesia (blue revolution), gairah yang datang dari sektor kelautan.

Siapa yang sangsi bahwa Indonesia, terkhusus Sulawesi Selatan menyimpan potensi terumbu karang, bakau, kekayaan non-hayati seperti mineral, minyak dan sumber energi kelautan?

Bukankah karena alasan itu Universitas Hasanuddin memaklumatkan Kelautan sebagai Pola Ilmiah Pokoknya (PIP)? Untuk itulah semangat dan spirit Kelautan itu harus diinternalisasi dan ditanam sedalam mungkin pada setiap institusi pemerintah, pelaku pasar dan masyarakat sipil.

Testimoni Alumni

Seorang alumni yang kini bekerja di perusahaan pertambangan mengatakan bahwa selama 10 tahun terakhir, masih banyak alumni Kelautan yang belum mendapatkan pekerjaan.

“Ada banyak lowongan pekerjaan namun belum ada yang khusus menerima formasi Kelautan (sarjana Kelautan). Kalau pun ada yang menerima dari jurusan teknologi Kelautan, kompetensi yang diminta untuk alumni mungkin sulit dipenuhi,” katanya.

“Ada contoh seperti kegiatan instalasi dan pengelasan bawah laut, yang bersertifikat dan masih banyak lagi yang sepanjang pengalaman di Jurusan Ilmu Kelautan materi dan kurikulum tersebut tidak saya dapatkan,” katanya lagi.

Menurutnya, penting untuk mengkaji ulang kurikulum Kelautan di Universitas Hasanuddin sebagai bekal menjawab tantangan dunia kerja berbasis Kelautan di masa mendatang, ini mesti jadi agenda utama.

Dia juga ingin agar institusi terkait seperti Fakultas dan Ikatan Sarjana Kelautan dapat bergandeng tangan menyikapi hal ini untuk satu terobosan nyata yang tentu pada akhirnya akan bermuara pada penguatan kapasitas organisasi alumni untuk pembangunan negara maritim Indonesia.

Namun seorang alumni Ilmu Kelautan yang kini jadi PNS di Maluku Utara dan bergelar S.Kel (Sarjana Kelautan) mengatakan hal menarik.

“Tidak seekstrem itu, kurikulum sekarang masih sangat menunjang dalam dunia pekerjaan kemaritiman, kalau ada alumni bekerja di luar disiplin ilmu mungkin itu pilihan nasib, Apalagi kalau mau kurikulum ‘pengelasan’ pasti ada di BLK Jurusan Kelautan,” katanya bercanda.

Seorang alumni lainnya mengatakan bahwa kurangnya sosialisasi jurusan Ilmu Kelautan dibandingkan jurusan lain berdampak pada alumni Kelautan tidak diperhatikan.

Ketiganya tidak menampik bahwa memang perlu strategi khusus untuk menembus ketatnya persaingan kerja. Mereka adalah contoh alumni yang coba memilih strategi yang paling praktis. Mereka bisa diterima bekerja untuk bidang pertambangan dan pegawai negeri sipil tentu karena kemampuan beradaptasi dan jaringannya sendiri.

Seorang alumni di Kalimantan Selatan, memilih strategi untuk mengirim aplikasi di wilayah lain setelah di kampung halamannya tidak tersedia formasi Kelautan. Dia mengatakan bahwa dia pernah mendaftar ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) tapi tidak dilayani karena tidak ada formasi untuk Sarjana Kelautan (S.Kel), mereka pikir itu sarjana pelayaran.

Kerja Keras dan Jaringan

Sekilas, dinamika alumni sebagaimana dipaparkan di atas, sekilas mungkin tidak berbeda jauh dengan pengalaman alumni di beberapa jurusan atau fakultas lainnya.

Saat ini semua paham bahwa kompetisi untuk memperoleh lapangan pekerjaan telah sedemikian tinggi, hanya sarjana yang berkualitas, berpengetahuan, terampil dan komit pada bidang keahliannya.

Pengalaman di atas menunjukkan bahwa untuk menuju satu kemandirian pembangunan dibutuhkan individu yang tangguh dan tidak terbelenggu pada kekakuan situasi. Banyak bukti bahwa alumni telah keluar dari belitan “gelar yang mengganggu” lalu kemudian memperoleh kedudukan dan pengabdian yang mulia.

Beberapa dari mereka sukses menjadi peneliti, praktisi Kelautan dengan bermodalkan solidaritas, penguatan jaringan dan yang pasti kegigihan bahwa selalu ada cara untuk mengangkat keahlian mereka di bidang kelautan seperti menyelam, survey kelautan, riset terumbu karang, instrumentasi laut, pemantauan kualitas air laut, hingga instalasi bawah laut.

“Pengetahuan dasarnya sudah ada di kampus hanya perlu konsistensi dan inovasi,” kata seorang sahabat yang kini bekerja di salah satu divisi CSR pesisir di perusahaan minyak.

Jika merujuk ke mata kuliah yang ada seperti biologi laut, ekologi laut, oseanografi, hingga instrumentasi laut rasanya masuk akal. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mahasiswa untuk kreatif, inovatif dalam menyikapi setiap peluang pengembangan diri. Mereka tidak bisa hanya terjebak pada hal-hal rutin saja.

Mereka harus keluar dari cangkang akademik untuk lebih responsif pada isu-isu Kelautan aktual.

Saat ini terbuka luas kesempatan untuk memperkuat kemampuan menyelam, kemampuan meriset terumbu karang, hingga kemampuan pemantauan kualitas air laut atau gejala-gejala kelautan esensil seperti perubahan iklim, dinamika gelombang, tren arus, pola pasang-surut hingga pemetaan kelautan atau Geographical Information System (GIS).

Namun ada juga beberapa alumni yang berharap kinerja maksimal dari kampus.

Mereka termasuk kalangan pemerhati Kelautan yang masih menyimpan galau. Mereka menganggap bahwa apa yang diajarkan saat ini perlu ditinjau ulang semisal memperbaiki kurikulum dan materi pengajaran yang relevan dengan tuntutan pekerjaan. Mereka juga berharap supaya ada upaya yang serius untuk mempersuasi para pengambil kebijakan di kabupaten/kota maupun pusat untuk mengutamakan sarjana Kelautan dalam rekrutmen pegawai.

Galau dan harapan ini sangat beralasan jika mencermati dinamika pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut saat ini yang cenderung destruktif dan tak efektif, kantong kemiskinan yang semakin tinggi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ancaman ekologi pesisir yang semakin menakutkan seperti tsunami, abrasi pantai dan pencemaran laut.

Ada pernyataan menarik yang dilontarkan oleh Dr. Nurjannah Nurdin, M.Si, salah seorang alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan yang kini mengabdi di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP UNHAS), saat berlangsung Rapat Kerja (Raker) Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin di Hotel Mercure, tanggal 15 Januari 2011 lalu.

Menurutnya, saat ini sebenarnya, FIKP UNHAS itu telah merepresentasi tiga fungsi utama pemanfaatan sumberdaya Kelautan, yaitu fungsi eksplorasi, eksploitasi dan konservasi untuk mendukung praktek pembangunan yang berkelanjutan.

Menurutnya, eksplorasi mengacu pada pemberian ruang seluas-luasnya untuk aktualisasi keilmuan bagi mahasiswa untuk menggali, mengindentifikasi, menemukenali potensi sumberdaya kelautan, baik hayati dan non hayati.

Eksploitasi terkait dengan bagaimana memanfaatkan sumberdaya dengan bijaksana sedangkan konservasi adalah suatu upaya menjaga kelestariaan dan daya dukung sumberdaya melalui praktik manajemen yang efektif dan mendukung pelestarian spesies. Disadari bahwa perjuangan untuk mengambil peran utama dalam memajukan Kelautan nasional dan regional masih butuh waktu panjang dan kerja keras para alumni.

Dibutuhkan kolaborasi dengan segenap stakeholder di ranah ini, baik dengan pemerintah pusat, propinsi, kabupaten/kota hingga pelaku ekonomi dan organisasi masyarakat sipil. UNHAS harus didorong untuk dapat mencetak alumni yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan komitmen yang kuat dalam merawat spirit Kelautan yang dikandungnya.

Jika ini berjalan mulus, bukan mustahil Indonesia akan semakin kuat dan mandiri sebagai negara maritim, dan UNHAS jadi tolok ukurnya.

Makassar, 21 Januari 2011

One thought on “Merawat Spirit Kelautan dari UNHAS

  1. Yang paling enak……..Sarjana Teknik Kelautan,…….banyak peluang pekerjaannya..bisa masuk ke segala bidang kelautan mulai dari PNS KKP, Perusahaan Pelayaran, Galangan kapal dan paling banyak di Pertambagan minyak Lepas pantai.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: