Hacker dan Cyber War

Tulisan ini dibuat setelah menonton stasiun televisi Aljazeera pagi ini (20/12/2010) yang menyorot tema “cyber wars”. Sekaligus rangkuman berita mereka tentang ulah para pendukung Wikileaks yang menyerang laman senator Sarah Palin dan situs Master Card. Juga cerita laman pemerintah Swedia http://www.regeringen.se yang mati sementara karena diganggu hacker pro Wikileaks.

Hacker yang menyebut diri Anonymous menyerang mereka yang melawan Wikileaks, situs yang menyebarkan berita dari ‘sisi lain’ terkait kebijakan negara.

Amerika salah satu yang kebakaran jenggot karena ternyata dianggap menyimpan catatan kelam pelanggaran hak asasi manusia dan borok administrasi. Ada yang menarik, para hacker atau peretas ini menyerang dengan jumlah volume, atau yang sering disebut DDoS. Situs targetnya mengalami lonjakan pengunjung berlipat hingga over kapasitas. Lalu mati. Motif mereka sederhana: demi kebebasan berpendapat atau berekspresi.

Saat Google dihack oleh pelaku berbahasa China banyak pihak utamanya politisi dan aparat pemerintah di Eropa dan Amerika yang mulai sangsi pada kemampuan pertahanan dan keamanan server atau sistem operasi internet mereka. Bukan hanya organisasi bisnis tetap pihak militer pun mulai pasang kuda-kuda

Selain individu rada gila yang bertopeng hacker ini mereka menyebut adanya indikasi perusahaan IT yang direkrut oleh negara yang memang punya niat melumpuhkan sistem internet negara pesaingnya secara sistematis dan bermodal besar. Semisal, China dan Amerika yang ibarat kucing dan tikus dalam peta politik dan ekonomi. Walau masih menduga-duga, hubungan Amerika terhadap China nampaknya sangat diwarnai oleh ketegangan terkait issu ini. Era perang dunia maya mulai ditabuh.

Hackers dari Russia dan China mempunyai reputasi yang kuat sebagai dalang kriminal dunia maya ini. Europe dan Amerika Serikat adalah korban terbesar dari mereka. Kementerian pertahanan telah mengeluarkan dana hingga 100 Juta dollar untuk menjamin keselamatan cyber mereka dalam enam bulan terakhir.

Kasus Google yang dihack, konon pelakunya dari daratan China, dan kini Wikileaks yang memanfaatkan media internet sebagai medan perang dalam penegakan “kebenaran faktual” menjadi contoh bahwa negara-negara besar mesti berbenah. Jika hacker dahulu hanya bermain-main di wilayah “soft” maka kini mereka mulai merambah jantung pertahanan militer, sebagaimana pengandaian di atas.

Dunia nampaknya sedang masuk ke era baru perang. Internet yang telah menjadi kebutuhan vital bagi para praktisi dan administratur pemerintahan mesti menjaganya dari perambahan tak terkendali. Di sana diperlukan “Cyber Command”, kata elit militer Amerika menyikapi semakin besarnya ancaman pihak lain bagi jaringan internet mereka sebagaimana disajikan Aljazeera.

Aljazeera juga menyorot seorang lelaki berjenggot merah bernama Redbeard seorang hacker dan adminsitrator sistem komputer di Amerika Serikat. Dia membenarkan adanya organisasi atau negara yang merekrut hacker untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu pemerintah Amerika sedang menginisiasi apa yang mereka sebut sebagai upaya ofensif cyber bagi yang melakukan kegiatan counter attack. Milyaran dana disiapkan untuk menbiayai proyek ini.

“Peluang penyerangan instalasi internet ini memang semakin besar karena para hacker dapat saja menyerang melalui telepon seluler, komputer, dan beragam alat komunikasi lainnya,” Kata seorang konsultan media sebagaimana dikutip Aljazeera.

Tidak boleh tidak, perusahaan internet mesti belajar dan bekerja sama dengan otoritas pemerintah seperti militer untuk membentengi dirinya. Di Amerika Serikat upaya tersebut semakin ditingkatkan, bukan hanya berjaga-jaga tetapi melakukan counter attack bagi individu, organisasi dan bahkan negara yang mendukung kegiatan hacking ini.

Amerika gerah dengan ulah para hacker yang mulai menjadi antek-antek negara kompetitor, wajar jika mereka mengambil langkah-langkah taktis demi reputasi mereka yang telah terjaga dengan apik. Mereka mengkonsolidasi para ahli, mengalokasi dana, fasilitas dan menggiatkan upaya proteksi dan counter attack.

Bagaimana dengan Indonesia yang konon masih berkutat di urusan hal dangkal tentang penggunaan internet? Sudah antisipatifkah kita?

Sungguminasa, 20/12/2010

Gambar diunduh dari: http://trendsupdates.com/are-there-really-cyber-wars-that-threaten-global-security/

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.