Festival Mimpi di Taka Bonerate

 

DSC_0294
Pantai Appatanh (foto: Kamaruddin Azis)

Sekilas, siapa pun takjub pada gambar di social media yang dikirim oleh seorang teman tentang meriahnya ajang Taka Bonerate Island Expedition II 2010 (TIE) di dalam kawasan Taka Bonerate.

Ada parade terjun payung marinir, ada pentas senibudaya bahari, lomba mancing dan penyelaman di atas terumbu karang. Tidak tanggung-tanggung, di sana ada Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, wakil gubernur, Agus A. Nu’mang dan Ketua DPRD Muh. Roem dan beberapa pejabat di jajaran Pemprov. Taka Bonerate, kawasan eksotik yang dianggap masih tidur pulas pada sektor pariwisata dan perikanan.

Sebagai salah satu atol ketiga terbesar di dunia dengan vegetasi sumberdaya pesisir dan laut yang sangat beragam (high diversity), Taka Bonerate masih sepi investasi dari pihak swasta, utamanya pariwisata.

Tanggal 27 Oktober 2010, para pejabat Pemprov mengunjungi Pulau Tinabo. Pulau yang sebenarnya lebih banyak diam dalam pesona keindahannya.

Tinabo, hanya satu sisi, masih ada pesona Pasitallu, Latondu, Tinanja, Tarupa, Bungin Belle, Taka Sikadabu, Taka Lamungan yang menyimpan daya tarik wisata bahari, untuk selam, snorkeling dan wisata lingkungan pantai lainnya.

Dengan luas hingga 220 hektar, Taka Bonerate adalah hamparan puncak gunung yang mencuat dari dasar laut. Dia menampilkan konfigurasi pulau-pulau gusung pasir yang selain putih bersih juga menyimpan ekosistem terumbu karang dan padang lamun yang memikat.

Di atas puncak itu bermukim 6ribuan warga berKTP Selayar. Warga heterogen dengan bahasa yang beragam, ada Bugis, Makassar, Buton hingga Flores. Karena potensi itu, tahun ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Sulsel menyiapkan 3,2 miliar untuk hajatan TIE.

Saat warga dunia menunjukkan simpati dan belasungkawa atas tragedi tsunami di Mentawai dan bencana Merapi, tanggal 27 Oktober 2010, Gubernur Syahrul membuka ajang ini. Tentu dengan pertimbangan konsistensi dan komitmen Pemprov dalam memajukan pariwisata di Sulawesi Selatan. Mereka telah menganggarkan dana yang bersumber dari APBN sekitar Rp 2 miliar, APBD Provinsi Sulsel Rp 600 juta, dan APBD Kabupaten Selayar Rp 600 juta (Tribun Timur).

Anggaran besar ini tidak hanya mengundang decak kagum tetapi juga sinisme dari berbagai pihak.

Yang positif, mereka menyebut bahwa adalah hal yang sangat membanggakan melihat Syahrul Yasin Limpo, Gubernur flamboyan dan modis ini datang, bahkan menikmati sensasi keindahan terumbu karang Pulau Tinabo, jantung wisata Taman Nasional Laut Taka Bonerate yang jarang dikunjungi elite pemerintahan.

Sederhana saja, dengan melihat beliau menyelam dan hadir di pulau sepi bernama Tinabo sudah menjadi indikator bahwa Pemrov memang serius mengawal dan memajukan wisata bahari. Hanya dibutuhkan strategi lanjutan untuk memanfaatkan momen ini secara benar, berkelanjutan dan signifikan dampaknya.

Kritik juga ada. Mereka menganggap bahwa TIE tidak dipersiapkan dengan baik.

Biaya yang besar hanya untuk seremoni yang tidak substantif dalam memicu datangnya wisatawan. Sosialisasi atau dialog multipihak, publikasi dan iklan tentang pesona Taka Bonerate yang mestinya muncul di media cetak dan elektronik nyaris tak punya gaung.

Jika pun ada, paketnya tidak menangguk simpati karena dikerjakan asal-asalan. Mereka beralasan, mestinya inisiatif ini tidak hanya megah di pelaksanaan tetapi berdampak secara sistemik pada semua level birokrasi, pusat, propinsi dan kabupaten.

Selain itu, mereka melihat even TIE ini sarat kepentingan politik dan tidak tangkas di teknis pelenyelenggaraan.

Tetapi, bagaimana pun, wacana pengembangan pariwisata utamanya wisata kelautan tentu bukan hal mudah. Sudah banyak pengalaman usaha ini membutuhkan tangan dingin, cekatan dan pantang mundur dalam menggalang dukungan pihak lain.

Mediasi dan promosi yang di luar kebiasaan sudah harus ditempuh, semisal menjadikan Taka Bonerate sebagai pokok bahasan berkelas dunia. Menghadirkan pesonanya di jaringan media kelas dunia, koran nasional yang strategis, atau bahkan menghadirkan tokoh kunci dan populer rasanya layak dicoba.

Hal penting lainnya, mendorong promosi dengan memanfaatkan jaringan organisasi swadaya masyarakat yang semakin marak, organisasi penyelaman, komunitas fotografi, universitas dan pihak swasta mesti lebih konkrit.

Selama ini pemerintah lebih senang membuat pernyatan pengeloaan “kolaboratif”, bermimpi tentang pariwisata laut yang maju dan prestisius tetapi dalam penjabarannya kerap jalan sendiri, tertutup dan jauh dari hiruk pikuk dialog dengan para aktivis kelautan dan parisiwata (professional). Strategi yang dipilih pun masih menganut konsep lama dan jauh dari efektivitas dan efisiensi.

Pengalaman Selayar

Tentang dinamika usaha pariwisata di Kabupaten Kepulauan Selayar, sebenarnya banyak contoh yang dapat dikemukan untuk membuka mata hati para perencana dan pengambil kebijakan.

Dua tahun lalu, usaha wisata Jochen asal Jerman di Appatanah, sisi timur pulau Selayar sempat menjadi polemik karena saat itu dilaporkan hanya belasan juta rupiah yang mereka setor ke kas pemerintah Selayar sementara profit tahunan mereka dari usaha itu mencapai Milayaran.

Modus Jochen dalam mendatangkan turis terbilang luar biasa. Dengan paket info wisata melalui internet dan dari mulut-ke-mulut tamu yang datang dia menangani kunjungan turis dari Eropa dengan professional dan terpadu.

Mereka menjemput di Bandara Hasanuddin lalu mengantar ke Bira dengan mobil sendiri, dari Bira mereka menempuh perjalanan ke Appatanah dengan naik speedboat. Nyaris tanpa melalui ibukota Kabupaten, Benteng. Tuntas dan tangkas. Turis hanya butuh waktu beberapa jam dari Makassar lalu sampai ke Appatanah. Dan mereka pasti akan berdecak kagum melihat sensasi keindahan pesisir timur Selayar yang bersih, alami dan menenangkan.

Lain Jochen lain pula Mister Bernhard, usaha bisnis wisata yang dikelolanya di pantai barat Baloiyya dan timur Selayar, masih lebih dominan memanfaatkan pesawat pemerintah yang bersubsidi.

Tamu yang mereka ikat di internet mesti naik pesawat dari Bandara Hasanuddin ke Bandara Aroeppala, Kota Benteng, jika tidak, turis sebenarnya bisa datang dari Pulau Bali langsung Ke Benteng karena adanya jalur baru yang dibuat pemerintah. Naik pesawat sebenarnya mengasikkan dan lebih cepat namun yang selalu buat gondok para pengelola wisata ini adalah saat pesawat delay atau berubah jadwal keberangkatannya tanpa konfirmasi ke pengelola wisata. Masalahnya, karena tidak ada pilihan lain. Jika demikian para pengelola wisata hanya bisa gigit jari.

Kondisi inilah yang ternyata belum ditangani dengan efektif hingga kini. Mengenai rute darat, sebenarnya lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya tetapi sekali lagi masalah waktu dan minimnya alat transportasi yang nyaman masih jadi kendala.

Di balik itu semua, sampai saat ini ternyata masih banyak pihak minim pengetahuan tentang kawasan ini. Juga, atensi penentu kebijakan tentang kondisi dan potensi yang dapat dikembangkan selain pariwisata. Taka Bonerate adalah surga bagi ikan karang.

Di kawasan ini, tanpa menggunakan kalkulator pun kita dapat hitung nilai ekonominya.

Setiap bulan, miliaran transaksi ekonomi berjalan di pulau yang oleh orang-orang kota (bahkan pemerintah) disebut miskin terkebelakang ini. Bisnis ikan kerapu hidup (live fish) adalah contohnya, rerata tiap bulan, dari pulau Latondu hingga Pasitallu, berton-ton ikan dikirim ke Bali dan Makassar dengan nilai ratusan juta hingga miliaran. Jika ini disebut mimpi, bisa jadi. Warga hidup di pulau dengan nilai ekonomi miliaran, yang spektakuler namun tidak disadari oleh para pemangkukepentingan, bagi pemerintah mereka kawasan ini hanyalah kawasan berpenduduk miskin sehingga layak dijadikan obyek keprihatinan.

Pemerintah abai dalam menjadikan keunggulan ekonomi perikanan dan kelautan kawasan ini sebagai pemicu (trigger) pengembangan wilayah. Salah satu bukti adalah masih minimnya akses dan moda transportasi komersil menuju kawasan ini.

Kawasan dengan 21 pulau itu dimana terdapat 9 yang telah berpenghuni adalah warisan yang telah bergulat dengan persoalannya sendiri. Sejak dijadikan taman nasional pada tahun 1992, dimana Departemen Kehutanan sebagai leading unit pengeloaan, mereka telah melakukan banyak kegiatan demi menjadikannya kawasan konservasi sekaligus pemanfaatan yang berdaya guna. Telah banyak rumah wisata seperti homestay, dermaga dan bahkan fasilitas wisata seperti kano, scuba tank, perahu katamaran, yang dibiayai atas nama negara.

Lembaga Swadaya Masyarakat dan Dinas Pariwisata Kabupaten juga demikian. Mereka sudah banyak sekali menawarkan paket pembangunan infrastruktur, ragam pelatihan selam, bahkan promowisata ke berbagai wilayah namun kawasan ini masih saja sunyi dari kunjungan wisatawan.

Kawasan Taka Bonerate masih saja seperti biasa, setidaknya hari di luar festival mahal itu berlangsung.

Di Pulau Rajuni Kecil, para pelaut yang membawa barang seperti beras, terigu, semen bernilai ratusan juta dari Makassar ke Nusatenggara masih seperti dulu, kerja keras dan pemberani.

Di Pulau Tarupa para nelayan masih saja bergelut dengan kehidupan nomad mereka, para warga di Pulau Jinato masih saja langgeng dengan interaksi ekonomi dengan pedagang di Kabupaten Sinjai dan Bulukumba.

Para nelayan di pulau Pasitallu masih lekat hubungan sosial-budayanya dengan komunitas Pulau Jampea, Bonerate, bahkan suku Buton atau warga Boi Pinang di Sulawesi Tenggara.

Lalu siapa yang peduli pariwisata?

Warga-warga dari beberapa pulau penyusun Taka Bonerate mungkin tidak pernah berpikir atau bermimpi bagaimana pariwisata bahari menyejahterakan mereka. Yang mereka pikir bagaimana melanjutkan hidup tanpa skenario. Bangun, ke laut mancing, capek berikhitar di laut lalu pulang tidur. Begitu seterusnya.

Mungkin mereka merasa bermimpi saat melihat para penerjun payung tiba-tiba terlihat di atas gugusan atol itu. Kagum, setelah itu sunyi. Mereka mungkin akan mendapat manfaat dari pengembangan sektor kelautan atau pariwisata ini tetapi hal pertama yang dibangun adalah bagaimana masuk ke kehidupan mereka dan bersinergi dalam menata fondasi kehidupan mereka secara mutulaistik.

Menjaring Turis

Khusus Taka Bonerate, hingga saat ini jumlah turis yang datang masih bisa dihitung dengan jari. Coba periksa logbook tamu asing di Pondok Tinabo yang dikelola oleh Taman Nasional.

Di level provinsi pun informasi tentang jumlah wisatawan memang sedang mengalami kemunduran. Jika pun ada penambahan itu masih fluktuatif dari bulan ke bulan. Sulawesi Selatan dengan paket Toraja dan wisata pantai di Bira, mungkin salah satu penyumbang bagi angka jumlah kunjungan wisata nasional bersama Bali, Nusatenggara, Sumatera dan wilayah timur lainnya.

Angka kunjungan wisatawan Sulsel naik 15% pada kurun Januari hingga Juni 2010 tetapi itu masih berpusat di wilayah lama. Sangat minim informasi dari wilayah potensial seperti Taka Bonerate. Taka Bonerate malah kalah oleh laju pariwisata di Kepulauan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Menurut estimasi pemerintah pusat, diperkirakan jumlah kunjungan wisatawan akhir tahun 2010 akan mencapai 7.090.166 orang, sehingga target tujuh juta tetap dapat dicapaidan diperkirakan pendapatan negara dari sektor pariwisata dapat mencapai lebih dari Rp 80 triliun.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik bahkan mengatakan bahwa target 7 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dapat tercapai tahun ini. Menurutnya hampir setiap bulan, dibanding bulan yang sama tahun lalu, terjadi peningkatan jumlah kunjungan lebih kurang 7 persen. Angka itu masih jauh dari apa yang dialami oleh negera tetangga. Malaysia sebagai misal, tahun 2009 dapat mendatangkan wisatawan mancanegara 22 juta. Sementara Singapura 10,5 juta, dan Thailand 14 juta. Indonesia menurut catatan cuma 6,4 juta.

Pengalaman TIE di Selayar dan komitmen Pemerintah Provinsi rasanya dapat menjadi pemicu untuk mendukung kebijakan pengembangan pariwisata nasional. Jika Taka Bonerate masih dianggap punya potensi yang sangat kaya dengan potensi pariwisata bahari, maka kita dapat memancing ketertarikan wisatawan untuk datang dengan mengolah potensi ini menjadi satu destinasi wisata yang nyaman dan efektif.

Dibutuhkan keterpaduan dan ketepatan akses (waktu dan destinasi) antara Makassar – Selayar – Taka Bonerate dengan wilayah strategis seperti Bali dan Pulau Komodo. Juga atraksi wisata dan kelengkapan sarana-prasarana pariwisata sudah harus diimplementasikan dan disinergikan.

Selain, itu tentu dibutuhkan fasilitas pendukung seperti akomodasi yang sehat dan nyaman serta sumberdaya manusia yang profesional.
Sukses tidaknya pengembangan pariwisata memang banyak tergantung pada beberapa faktor salah satunya kondusifitas keamanan wilayah.

Jika Pemerintah Provinsi berkomitmen untuk tetap mengadendakan Takabonerate Island Expedition (TIE) hingga 2012 sebagai mimpi membangun sumberdaya kelautan regional maka rekomendasi di atas harus menjadi catatan bagi mereka untuk sinergi dengan pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten, pihak swasta dan organisasi masyarakat yang peduli wisata Kelautan. Jika tidak, penyelenggaraan yang ditargetkan pada 2012 bersamaan dengan Visit South Sulawesi 2012 menjadi mubasir.

Sungguminasa, 30102010

4 thoughts on “Festival Mimpi di Taka Bonerate

  1. Salut Bang ulasannya mengenai TIE II. Kebetulan saya sudah hampir setahun keliling-keliling Takabonerate. Waktu TIE saya juga sempat hadir, dan memang harus diakui pelaksanaan TIE kali ini jauh dari maksimal. Meminjam istilah Pak Gub “datar-datar saja”. Saya sempat “cerita-cerita” dengan beberapa masyarakat Rajuni, mereka mengatakan bahwa tidak terlalu dilibatkan, terbukti tidak adanya panitia lokal (Desa), walaupun mereka sudah menawarkan diri kepada Panitia. Akibatnya yah mungkin bisa dirasakan atau didengar sendiri nada-nada miring dari pengunjung ataupun peserta yang merasa tidak difasilitasi atau disambut dengan sebaik-baiknya. Tapi saya berharap mudah-mudahan tahun depan yang menurut Pak Gubernur TIE akan ditingkatkan menjadi Sail Taka Bonerate, dan apa yang terjadi kemarin bisa menjadi pelajaran dan bahan evaluasi oleh semua pihak. Tabe numpang coret….

    Like

  2. Salut Bang ulasannya mengenai TIE II. Kebetulan saya sudah hampir setahun keliling-keliling Takabonerate. Waktu TIE saya juga sempat hadir, dan memang harus diakui pelaksanaan TIE kali ini jauh dari maksimal. Meminjam istilah Pak Gub “datar-datar saja”. Saya sempat “cerita-cerita” dengan beberapa masyarakat Rajuni, mereka mengatakan bahwa tidak terlalu dilibatkan, terbukti tidak adanya panitia lokal (Desa), walaupun mereka sudah menawarkan diri kepada Panitia. Akibatnya yah mungkin bisa dirasakan atau didengar sendiri nada-nada miring dari pengunjung ataupun peserta yang merasa tidak difasilitasi atau disambut dengan sebaik-baiknya. Tapi saya berharap mudah-mudahan tahun depan yang menurut Pak Gubernur TIE akan ditingkatkan menjadi Sail Taka Bonerate, bisa menjadi pelajaran berharga dan bahan evaluasi oleh semua pihak. Tabe numpang coret….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: