Andi Alwi, Antara Bikeru dan Boi Pinang

Tambak dan Bakau...
Pernah dengar nama Desa Teppoe Seddi?. Desa Teppoe mungkin iya, itu nama desa di Kabupaten Sidrap. Tapi Teppoe yang ini bukan di Sulawesi Selatan tapi di Tenggara. Nama kecamatannya pun beraroma Bugis, Kecamatan Poleang Timur, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Nama desa ini saya dengar dari lelaki Andi Alwi yang saya temui di Pelabuhan Bajoe, Kabupaten Bone. Dia sedang berdiri di depan kapal barang sekaligus penumpang itu pada sore tanggal 25 Oktober 2010. Para buruh pengangkut barang sedang memanggul karung beras naik ke Kapal Motor Setia Kawan yang berlabuh. Beberapa penumpang telah duduk di dek menunggu bel keberangkatan. Suasana ramai sore itu.

Alwi yang kini berumur 35 tahun adalah lelaki kelahiran Bikeru, Sinjai. Pada tahun 1992 bersama orang tuanya dia datang ke Pulau Boi Pinang. “Saat itu umur saya 19 tahun. Masih muda waktu itu,” Katanya tersenyum.

Alwi adalah petambak udang di pesisir pantai Pulau Boi Pinang. Pekerjaan ini menurun dari orang tuanya yang bernama Andi Mattalatta, juga kelahiran Bikeru. Dia anak empat dan kini mengelola beberapa petak tambak pemberian orang tuanya.

“Bapak punya tambak 10 hektar dan saya dapat beberapa bagian,” kata lelaki yang beristrikan wanita Kajuara, Bone. “Saya berkenalan pertama kali dengan calon istri saat bawa ikan bandeng ke Kajuara,” Katanya. Di situlah Alwi jatuh hati. Dia kini dikarunia empat orang anak. Anak tertua umurnya 13 tahun, tapi masih kelas VI SD. “Anak saya dua tahun telat masuk sekolah, saat itu dia tinggal sama neneknya.” Katanya.

Saat ini Alwi mengisi tambaknya dengan udang atau bandeng secara selang seling. Kadang udang, kadang ikan. “Produksi ikan dan udang di tambak sedang sulit. Padahal dulu, hasilnya pernah saya bawa ke Makassar karena berlimpah. Kini, kadang hanya dijual di Boi Pinang saja,” katanya. Penyebab menurunnya produksi karena serangan penyakit.

Demi menyiasati ini Alwi mengambil bibit dari alam. “Saya membiarkan saja udang dan ikan yang masuk dari laut,” katanya. Selama ini banyak petambak membeli benur atau nener dari tempat pemijahan (hatchery) dari Bone.

Alwi bersaudara enam orang. Seorang meninggal. Dia dapat dua hektar dari tambak pemberian orang tuanya. “Bapak dulu menjual kebun cengkeh di Bikeru lalu modal digunakan beli lahan tambak di Boi Pinang, ”

Dengan modal itu dia membuka lahan dan bertambak. “Dulu banyak sekali pohon bakau di daerah sana,” Katanya. Membuka lahan itu, Alwi dan keluarga kerja sama dengan warga setempat, suku Marunene.

“Saya baru pulang dari Bikeru karena kakek meninggal di usia lebih seratus tahun,” Katanya saat saya tanyakan apa tujuannya ada di Bajoe. “Saya kembali ke Bikeru setelah tiga tahun di Boi Pinang,”

Andi Alwi, lelaki kelahiran Bikeru, Kabupaten Sinjai itu adalah juga warga Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Walau sedang berduka, namun sore ini dia terlihat santai. Dia sosok warga yang mengadu nasib di kampung seberang, sebagaimana banyak warga di sekitar kita yang tidak mau pasrah pada keadaan. Mereka tetap gigih.

Jam 8 sebentar malam, Setia Kawan akan berangkat membelah teluk Bone. Dengan mengeluarkan uang Rp. 100ribu, Alwi diperkirakan akan sampai pada subuh hari, di dermaga Boi Pinang.

“Saya masih harus naik mobil sejauh 20 kilo menuju rumah di Teppoe Seddi,” katanya. Di rumahnya, anak istrinya tentu tak sabar menanti.

Watampone, 26/10/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: