Bom Ikan, Dilema Nelayan

Wajah wilayah pesisir di Sulawesi Selatan

Pada satu pagi yang cerah di tahun 1997. Kami masih di atas perahu bermesin dalam (inboard). Orang pulau menyebutnya jollorok. Bersama Pak Aksa dan Pak Jaya kami sedang bersiap mengadakan pemetaan rataan terumbu karang di sekitar pulau Kapoposang, gugus pulau Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Saat salah seorang dari kami meraih mask dan snorkel hendak menarik meteran di sekitar tubir, kemudian seseorang dari perahu lain yang sedang bergerak berteriak, “ada orang meninggal di pulau seberang”.

Di atas perahu kami, ada Pak Nur dan Muhite’ warga pulau Kapoposang. Tapi beberapa dari kami bertanya, “eh ikan apa yang bisa menusuk leher seorang nelayan?” setelah mendengar alasan kematian yang bersangkutan. “Ikan cucut atau pari mungkin,” Kataku. Bisa jadi. Tapi, berita kematian dari warga pulau yang tidak dicek dengan seksama rasanya kerap menimbulkan galau. “Banyak kematian misterius di sini dan menyimpan banyak curiga penyebabnya,” Kata Muhite’.

***

Dua tahun kemudian, sekitar 400 kilometer ke tenggara, di perairan Laut Flores saya dapat informasi tambahan. “Jauh sebelum patroli dan penetapan kawasan Taman Nasional Taka Bonerate sudah banyak cerita, pengalaman nelayan yang meninggal karena kesalahan dalam mengoperasikan bom ikan,” Kata Haji Darwis salah seorang warga pulau Rajuni Kecil, Taman Nasional Taka Bonerate yang saya wawancarai tahun 1999.

Menurut Haji Darwis, banyak korban yang terpaksa didiamkan alias tidak dibesuk saat cedera atau meninggal karena takut terbongkar praktek illegal seperti itu. Jika mereka cedera biasanya mereka diinapkan di pulau jauh atau dibawa ke Kota Benteng, Selayar dengan diam-diam. Tragis. Pelaku bom rupanya tidak datang dari warga setempat, ada beberapa catatan dimana pelaku datang dari luar Selayar.

Tahun 2002 saya pernah membesuk beberapa nelayan asal Galesong, Kabupaten Takalar yang ditangkap di perairan Appatanah kemudian digelandang ke Polsek Bontoharu di Kota Benteng. Motif para nelayan yang datang dari jauh kemudian mencari ikan di wilayah administrasi kabupaten lain tentu tidak tunggal. Banyak dari mereka karena dorongan ekonomi rela meninggalkan sanak-keluarga dengan oknum aparat yang tidak taat konservasi lingkungan.

Walau sangat rentan terluka atau bahkan merenggut nyawa pelaku, motif penggunaan bahan peledak dalam mencari ikan ini nampaknya masih marak dipraktekkan oleh sebagaian nelayan. Belum optimalnya patroli dan komitmen keterpaduan dalam pengawasan sumberdaya kelautan nampaknya menjadi pemicu masih maraknya praktek ini. Belum lagi jika melihat daya dukung eksosistem laut yang semakin menipis, semakin memicu upaya ekstra nelayan mencari hasil laut.

Di saat lapangan pekerjaan semakin sempit, populasi penduduk semakin bertambah, semakin banyak pula nelayan yang mencari jalan pintas (short cut); membom ikan walau nyawa taruhannya. Di dalam kawasan Taka Bonerate, telah banyak korban berjatuhan karena penggunaan bahan peledak ini.

Sudir, salah seorang warga Pulau Rajuni, Taka Bonerate, Kabupaten Selayar salah seorang korban bom ikan (bomnya meledak saat masih di tangan) Wajahnya bopeng dan nyaris kehilangan nyawa.

Sudah tobat dan ingin memancing ikan kerapu saja” Katanya saat saya tanyakan rencananya setelah tragedi bom itu. Sudir lelaki gempal dan kekar ini lebih memilih memancing, sebagaimana pekerjaan sebelumnya.

Praktek penggunaan bom ikan ini, pada beberapa tahun silam, sempat melambungkan garis rezeki para nelayan di kawasan Taka Bonerate maupun di sekitar pulau-pulau Sulawesi Selatan. Mereka seperti lupa bahwa penggunaan bom ikan dapat memusnahkan masa depan mereka sendiri, bisa nyawa dan tentu saja bekal untuk generasi mereka.

Rasanya sulit menghapus praktek bom ikan di pulau-pulau jauh seperti di Selayar atau pulau-pulau di sekitar Laut Flores atau di Indonesia secara umum jika pengawasan bahan peledak masih lemah. Banyak kalangan menilai distribusi bahan peledak ini melibatkan banyak pihak, utamanya oknum aparat penegak hukum itu sendiri. Butuh penegakan hukum (law enforcement) yang kuat dan konsisten.

Sebab jika tidak, tunggulah kehancuran masa depan anak cucu kita…

Makassar, 28/08/2010

One thought on “Bom Ikan, Dilema Nelayan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: