Kisah Guru Adil Dari Taka Bonerate

Pengunjung Pesta Rakyat yang digelar Bank Rakyat Indonesia (BRI) Selayar menyemut di sekitar pantai Kota Benteng. Tepatnya di Plaza Benteng, bukan mal atau pusat pertokoan tapi hanya kawasan yang didisain sebagai pusat keramaian kota. Kegiatan ini sekaitan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65. Kawasan plaza bagus untuk melihat suasana sunset walau warga menganggapnya lebih asik untuk menikmati sarabba atau karaoke dangdut belaka. 

Malam itu ada pasar murah, pentas seni dan hiburan live music oleh artis KDI, saya lupa siapa nama artis dari Ibukota ini. Sore sebelumnya, kota Benteng diguyur hujan dan angin kencang.  Di sanalah saya bertemu Adil Badaruddin. Kawan lama. Terakhir saya bertemu dengannya pada tahun 2003 saat closing proyek COREMAP fase I. Saat saya menyusuri trotoar jalan, di sisi gudang kopra tua, Adil sahabat lama yang lahir dan besar di Pulau Rajuni, Taman Nasional Taka Bonerate melintas.  Saya menyapanya. 

Kini, dia terlihat ramping. Biasanya dia terlihat dengan kumis tebal tapi kali ini dia telah mencukurnya. Dia terlihat klimis. Sorot matanya yang tajam dengan postur tinggi membuatnya terlihat bagai keturunan Arab. Tidak jauh dari stan BRI Selayar, kami menarik dua kursi yang masih tersisa. Senyumnya tak henti saat saya menanyakan keadaan keluarga dan pekerjaannya kini. 

***

Dia mulai menceritakan bahwa dia telah jadi guru SMP di Pulau Pasitallu. Dia terlihat bersemangat berkisah tentang teman-temannya saat jadi fasilitator COREMAP fase I pada kurun tahun 1999-2003. Dia fasilitator proyek di di Pulau Pasitallu, satu program rehabilitasi terumbu karang yang didukung banyak donor seperti Bank Dunia, ADB, AusAID dan pemerintah kabupaten di beberapa daerah di Indonesia.  Saat itu saya bertugas di Pulau Rajuni, pulau kelahiran Adil.

“Baso, salah satu pemantau karang (atau reef watcer) binaan COREMAP kini kembali jadi nelayan biasa, Maris yang juga pengamat karang sekarang telah jadi kepala desa. Aminuddin kini staf di kantor desa Rajuni, Rabbil ketua BPD di Tarupa, Tandra jadi sekretaris desa di Latondu, Samuddin jadi staf desa. Bakri, warga Selayar yang juga reefwatcher telah meninggal dunia, meninggalkan Duniati istrinya di pulau Rajuni,”. Kenang Adil.

Sebelum terangkat jadi guru, Adil adalah Fasilitator Senior pada fase II COREMAP.

“Di fase II, COREMAP merektrut fasilitator dilakukan secara personal alias tidak melalui lembaga LSM. Saya bertanggungjawab untuk wilayah Takabonerate, ada empat desa dengan dua fasilitator yaitu Agussalim, orang Selayar di desa Tambuna, Sirajuddin yang kini jadi Ketua Panwas Pemilu, yang jadi fasilitator di untuk Desa Kayuadi, Batang dan Nyiur Indah,” Lanjutnya. Adil membandingkan rekrutmen fasilitator antara fase I dan fase II.

Sebagai orang proyek, Adil menyampaikan bahwa sebagaimana jamaknya proyek maka ada beberapa kegiatan yang diikutinya dari tahun 2004 hingga 2008. “Saya beberapa kali ikut pembekalan dan pelatihan, seperti pelatihan Rancangan Peraturan Desa (Ranperdes), Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut yang dilaksanakan di Kota Benteng. Selain itu, saya sempat ikut studi perbandingan ke Kota Batam untuk melihat kegiatan proyek sejenis,” Sambungnya.
“Tapi pesertanya itu-itu saja. Warga yang berpartisipasi di proyek juga sangat kurang,” Keluh Adil.

Adil merasa bahwa proyek yang diikutinya itu membutuhkan pendekatan baru dan berbeda. “Entah pendekatan apa lagi supaya manfaat proyek sebesar itu dapat terwujud,”  Ucapnya lirih. Dia seperti mengajak saya untuk mengamini bahwa pendekatan proyek selama fase I dan fase II belum menyentuh substansi pemberdayaan masyarakat.

Cerita Adil tentang para sahabat semasa masih bekerja di Taka Bonerate, mengalir dengan deras. Dia bahagia dengan keadaannya sekarang. Rupanya menjadi guru adalah cita-cita yang dibuhulkan oleh Badaruddin, ayahnya ketika dia masih kecil. Dia bahagia.

Malam makin tua di Kota Benteng, pengunjung masih menyesaki Plaza Benteng. Seorang rekan Adil datang mendekat. Pada saat bersamaan seorang sahabat yang mengajak saya berkaraoke di Bonea, utara Kota Benteng.

Adil menyudahi ceritanya. Saya janji, saya akan telpon nanti.

***

Hanya beberapa menit jarum jam bergeser dari pukul enam pagi waktu Benteng. Dengan bersepeda saya mengarah ke Pelabuhan Benteng. Pagi sangat tenang di sana. Beberapa pemancing di dermaga masih bertahan. Para ABK masih tertidur.

Di cabang dermaga, di belokan ke kiri beberapa warga sedang bersiap di atas perahu kayu kecil. Sangat kecil. Ada beberapa wanita dan anak kecil sedang duduk tenang. Dua orang pria sedang sibuk menarik tali dari dermaga.
Di atas dermaga, Adil sedang berdiri dengan satu tangan di dalam kantung celananya. Dia ditemani beberapa anak remaja. Di pagi itu, karena cuaca sedang baik beberapa warga Pasitallu sedang bersiap kembali ke pulaunya. Adil mengantar mereka. Dalam hitungan detik saya sudah berdiri di sampingnya dan mengagetkannya.

“Mumpung cuaca bagus, mereka akan berlayar ke Pulau Pasitallu,” Kata Adil mengenai perahu yang mulai menjauh dari dermaga.

Saat suasana dermaga mulai sepi, deru mesin semakin samar-samar menjauh saya mengajak Adil bersantap ikan bakar dan nasi santan di Warung Syawal. 

Saya di atas sepeda, Adil jalan kaki, kami menyusuri dermaga lalu melewati sisi barat lapangan Benteng, masuk ke jalan R.E Martdinata, lalu menuju pasar lama. Warung Syawal masih tutup. Masih terlalu pagi untuk warung ikan bakar terkenal di Kota Benteng itu.

Kami singgah di kedai kopi “Kedai Nelayan”. Saya pesan teh susu, dia pun teh susu. Perbincangan kami pun mengalir. “Saya lahir tanggal 20 September 1969,” Katanya saat saya mulai mengajaknya menyusuri lorong hidupnya. 

***

“Saya SD di Pulau Rajuni tamat tahun 83 lalu oleh orang tua saya direlakan untuk diboyong ke Makassar,” Kenangnya. “Saat saya ke Makassar saya diantar oleh Pak Salim dengan menumpangi kapal motor dari Pulau Rajuni. Sesampai di Makassar, Saya tinggal di rumah tante, kami memanggilnya Tante Emmy. Saya tinggal di sana mulai tahun 1983,” kata Adil. Suami Emmy adalah pegawai PLN.

“Selama SMP saya sempat membantu tante berjualan makanan di kantin PLN,  Jalan Ahmad Yani,” Kenang Adil.

Adil beruntung dapat lulus sekolah dasar pada SMP PGRI Sangir I yang terletak di di Jalan Sangir. Saat itu Adil tinggal di Jalan Butung.  Dia kemudian masuk ke STM Pembangunan di Jalan Sunu (kini, SMK 5), memilih jurusan mesin otomotif.

“Sebenarnya saya lulus di dua pilihan yaitu SMA 4 namun lebih memiih STM,” Kata Adil. Di STM dia sempat praktek kerja di Manado, di Bosowa Manado selama 4 buan. “Keahlian utama saya, bongkar pasang mesin,” Katanya.
“Bukan bongkar dan tinggalkan,?” Godaku. Dia tertawa. Setamat STM, Adil lulus di Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, namun terlambat mendaftar ulang. 

“Saat itu saya terlambat daftar ulang karena ikut berlayar,” Kenangnya. Adil masih ingat saat test masuk UNHAS itu di ikut test tertulis di kawasan Mallengkeri, pilihannya teknik mesin. “Saat itu saya berlayar ke daerah Kalabahi, Nusatenggara Timur. Saya ikut berlayar dengan pak Dawang,” Lanjutnya.

Karena keinginannya untuk kuliah dia kemudian mendaftar di Universitas Muslim Indonesia UMI Makassar, juga pada teknik mesin. Kemudian karena aliran dana yang tidak cukup dari Taka Bonerate, dia pun memilih pindah ke Fakultas Tarbiyah. “Lebih murah,” Katanya.

“Yang saya ingat saya pernah bayar SPP Rp. 75ribu hingga kemudian naik menjadi Rp. 400ribu. Saya lalu pindah fakultas dan tinggal di pondokan di daerah Jalan Kakatua. Adil mulai kuliah di UMI pada tahun 1991 dan menggondol sarjana Tarbiyah pada Juni 1996.

“Belum lama setelah menggondol ijazah itu, Bapak meninggal pada 25 Desember 1996,” Ungkap Adil datar.

 ***

Nasib mujur mengantar Adil untuk bekerja di World Wide Fund – Indonesia Proggramme pada tahun 1997 hingga tahun 1999. Sebagai orang yang lahir dan besar di Taka Bonerate, partisipasinya di organisasi yang mengusung konservasi lingkungan ini diharapkan dapat mempermudah penyampaian pesan kampanye konservasi lingkungan. Saat itu dia bertugas mengkampanyekan pentingnya pelestarian terumbu karang dan pendidikan konservasi pada anak-anak SD.

Hingga kemudian dia diterima menjadi fasilitator LSM untuk proyek COREMAP fase I. Dia fasilitator untuk Pulau Pasitallu hingga 2003. Saat proyek besar itu selesai, Adil memilih kembali ke Makassar.

“Setelah bekerja di COREMAP saya menganggur dan sempat kerja pada satu perusahaan Bursa Berjangka selama setahun,” Aku Adil.  Dia bekerja di bagian Akunting. “Walau namanya accunting executive, saya mesti mencari nasabah untuk mereka investasi  di bursa. “Saya sempat dapat dua nasabah. Mereka investasikan hingga Rp. 25 Juta,” Kata Adil.

“Saat itu, saya berkantor selama setahun di Menara Makassar. Yang saya masih ingat, jika sekali proses liquid terjadi, saya dapat fee Rp. 60ribu. Tapi saat itu saya kerap stress karena tekanan pekerjaan,” Katanya.

***

Yang Adil ingat setamat STM adalah pilihan pekerjaannya yang tidak jauh dari pekerjaan sebagian warga Takabonerate kala itu.  “Setamat STM saya ikut Almarhum Haya mencari ikan dan beberapa kali berlayar antar pulau. “Saya pernah ikut membom ikan hingga ke Pasi Lambaena, Taka Sikadabu, dan di sekitar pulau Latondu, dalam kawasan Taka Bonerate.,” Ungkapnya tenang.

“Saya tidak tenang karena pekerjaan penuh risiko. Saya merasa bersalah. Tapi itu berlangsung selama tiga bulan saja. Saya memilih berlayar karena merasa lebih aman,” Katanya. Saat saya tanya dari mana dapat bahan bom ikan itu, dia bilang disuplai dari Pulau Bonerate,” Katanya pelan. Ada agen yang mengantarnya.

Kini, Adil tinggal di Pulau Pasitallu. Saya menemuinya di Benteng, karena dia sedang mengurus administrasi sekolahnya. Istrinya bersama dua orang anaknya masih tinggal di Bulukumba. “Dalam waktu dekat saya akan memboyongnya ke Pasitallu,” Katanya. Ibunya dan beberapa saudaranya tinggal di Pulau Rajuni. Dia juga bersyukur karena salah seorang adilnya bernama Muis, kini juga jadi guru di Pulau Rajuni. Dia bahagia walau sebelumnya gagal menjadi anggota DPRD perwakilan dari pulau-pulau.

Kami perlahan menutup pembicaraan, saat seorang sahabat Adil datang mendekat ke meja kami.

Adil yang saya temui saat itu adalah Adil yang semakin tenang. Terlihat ramping, kini dia betah menjadi guru di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, nun jauh dari pusat pemerintahan di Kota Benteng.

Laksana laut, kisah guru Adil sahabat saya dari Taka Bonerate itu, memang tidak pernah sedatar permadani,  ada riak, gelombang bahkan badai kerap mengintai. Juga seperti kita, semacam biduk di laut kuasa Tuhan. Biduk yang selalu berjuang untuk tetap utuh sampai di dermaga tujuan.

Sungguminasa, 27/09/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: