Fragmen Wanita Berbaju Hitam dan Seorang Lelaki Tua

Hari Selasa, tanggal 26 Januari 2010, sekitar pukul 18.00 saya bersama istri ditemani dua “kurcaci” kami, Khalid Adam dan Aisya Sofia, baru saja menuntaskan makanan di salah satu resto franchise a la Italia di Mal Panakukang.

Sofia, 3,8 tahun, karena mengenakan sepatu tinggi bertemali tak lazim merasakan perih di sekitar tungkai kakinya. “Ma, sakit kakiku. Belikanka sandal cantik!” Tangannya menunjuk ke satu sandal warna kuning tanpa merasa riskan saat kami keluar dari tempat makan. Dia menunjuk ke satu bagian dalam mal, di depan gerai jam tangan. Mamanya setuju saja, dan segera mengenakannya. Saya berdiri tidak jauh dari mereka. Seorang wanita berbaju kaos hitam tanpa lengan baju (semacam can see?), bercelana hitam ketat dengan sandal sepatu temali warna hitam, berada tepat di belakang istri.

Dia melihat ke saya dengan gerakan mata yang berbeda. Ya, tidak biasanya. Saya cuek saja (walau diam-diam merekam ihwal tentangnya), seperti, penampilan make upnya terlihat agak menor dan sapuan bedak yang teramat dalam. Wanita berkulit sawo matang yang saya duga, berumur antara 35-40 tahun ini. Lumayan “berumur”, seperti yang saya perhatikan dari kerutan di dahi dan lengannya yang mulai pucat. Selain lekuk matanya yang dibilas “eyes shadow” Saya kira dia biasa saja. Tiada yang istimewa.

(saya juga menduga, jangan-jangan ada yang salah dengan hasil pangkas rambut tadi ya di lantai 2 mal?) lalu dia ingin bilang sesuatu? – dugaan yang tentu saja berlebihan, saya memang baru saja pangkas rambut sore itu –

Setelah istri membayar sepatu-sandal untuk Sofia itu. kami berempat berjalan ke arah timur mal. Sofia dan mamanya di depan. Saya dan Khalid Adam di belakang. Wanita yang mestinya telah hilang dalam ingatan tadi tiba-tiba dia telah berdiri di sudut gerai toko asesoris menghadap ke barat dengan kantung plastik warna putih. Matanya penuh selidik.

Seorang lelaki tua pendek, dengan handphone Communicator berwarna hitam di tangan, kira-kira berumur 60an tahun berpakaian rapi berambut ikal sedang melenggang dari arah timur ke pintu keluar bagian selatan mal MP. Terlihat santai. Saya bersama Khalid berdiri mematung menunggu istri dan Sofia. Tidak ada yang ganjil.

Hingga tiba-tiba saja, perhatian saja tersedot saat wanita berbaju hitam tadi memberi senyum kepada lelaki tua yang berjalan. “Mungkin mereka sudah kenal?” batinku. Si lelaki tersenyum juga dan segera berhenti. Sepertinya sedang menunggu seseorang. “Apakah wanita yang berbaju hitam ini?” pikirku. Tetapi wanita yang telah melepas busur senyum itu telah berpindah ke gerai pakaian. “Matanya melirik kiri kanan” Dia tidak tahu jika saya sedang “menguntitnya”. Anda tahu? Saya iseng hendak memotretnya tapi selalu gagal.

Entah mengapa saya ingin menelisik. Siapa dan tindakan apa lagi dari wanita berbaju hitam ini. “Iseng” pikirku. Tidak lama, istri berpindah ke gerai sepatu. “ya, maju-maju” Kataku sambil nyengir pada istri. “lihat-lihatji kodong” Katanya. Saya tertawa dan senyum kecut.

Wanita tadi datang lagi dan wajahnya merapat ke lelaki yang berdiri menunggu itu. Sepertinya dia melepaskan beberapa kata dan tentu saja senyum. Lelaki itu tersenyum. Saya tidak tahu apa kalimat wanita itu (mau tahu aja lu!). Saya melihat gerakan dan wajah penuh selidik darinya.

Lalu dia bergegas menuju tempat penjaja es krim. Mata saya tak lepas mengikutinya, dan jelas sekali wanita itu melirik lagi ke lelaki tadi. “ada yang aneh” pikirku. Wanita itu menghilang di balik gantungan kacamata dan asesoris wanita, tepat di antara gerai dunkin donuts dan penjaja makanan cepat saji.

Saya merasakan sesuatu yang ganjil dari wanita itu. Ingatan saya langsung pada hal tak biasa, terkait negosiasi atau upaya tranksaksional. “Transaksi yang ditolak” batinku agak jahat tapi buru-buru kutepis. Tidak. Mungkin dia sedang kelimpungan dengan rencana-rencananya malam nanti. Atau, dia sedang menebak nama lelaki tua tadi, atau mungkin mereka kenalan lama? Atau…? Saya saja yang sok mau tahu.

“Ma, kita ndak lihat wanita tadi?” Kataku pada mamanya Intan. “Tidak. Kenapa?” katanya. “Tidakji. Tapi ada yang aneh saja” Kataku. “Sambarang tong kita itu” katanya. Beberapa jenak, lelaki tua tadi dihampiri oleh seorang anak muda, sepertinya anaknya. Wajah mereka mirip dan berlalu dengan trolly sesak ke pintu selatan. Fragmen itu kuanggap selesai. Ya, selesai. Entah jika saja wanita tadi kembali lagi ke dalam mal dan berputar seperti yang terlihat barusan.

Saya lalu menuju resto Bakso Lapangan Tembak di pintu mall bagian selatan, di sana sambil memesan es jeruk saya menunggu Andre, sahabat dari Selayar yang janji datang malam itu.

Makassar, 27/01/2010

One thought on “Fragmen Wanita Berbaju Hitam dan Seorang Lelaki Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: