Memanfaatkan Pelatihan Untuk Membangun Kemitraan dan Mendefenisikan Ulang Fungsi Fasilitator

Senyum tanpa henti menyungging dari wajah Abduh, lelaki dari Galesong ini berpartisipasi aktif dalam dua dari lima seri pelatihan yang direncanakan. Kedua pelatihan yang diikutinya merupakan wujud kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Takalar dan CD Project JICA. Bersama 28 peserta lainnya, Abduh mengikuti pelatihan bertajuk Membangun Kemitraan dan Community Based Issue Analysis (CBIA) di Desa Bentang, Kecamatan Galesong Selatan.

Guna menyamakan persepsi di antara para stakeholder tentang pentingnya komitmen dan kolaborasi berbasis masyarakat, diadakan Pelatihan “Membangun Kemitraan” dan Lokakarya Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa Pesisir dan Pantai disingkat Gerbang P2K di Kantor Bappeda Kabupaten Takalar pada tanggal 28-29 Juli 2009. Mengikuti pelatihan ini, para peserta diajak menelaah makna dan fungsi fasilitator, menimbang berbagai fakta dalam kelompok masyarakat dan membandingkannya dengan apa yang telah dilakukannya sebagai fasilitator.

Pelatihan berfokus pada bagaimana para calon fasilitator mengidentifikasi dan menganalisis isu-isu penting di tengah masyarakat, bukan mengidentifikasi kebutuhan atau masalah. Pelatihan juga menekankan bahwa masyarakat bukanlah penerima manfaat (beneficiaries), dan fasilitator bukanlah pemberi manfaat (benefactor). Fasilitator dan kelompok masyarakat dampingannya adalah mitra. Dikatakan mitra sebab dalam masyarakat sesungguhnya terdapat tiga elemen kunci bertahan sedari dulu sejak masyarakat itu eksis yang membuat masyarakat langgeng sebagai satu komunitas. Ketiga elemen itu adalah sumberdaya, organisasi dan norma. Sebagai upaya mengenali ketiga elemen tersebut, diadakan praktek pelatihan CBIA di Desa Bentang, Galesong Selatan dan pulau Bauluang, Kecamatan Mappakasunggu.

“Setelah mengikuti dua pelatihan ini, kami menjadi sadar bahwa menjadi fasilitator ternyata tidak semudah yang dibayangkan” jelas Abduh. Selama ini kita kerap lupa bahwa dalam menjalankan tugasnya, seorang fasilitator hendaknya menjadi bagian dari masyarakat dan tidak lagi menjadi orang luar. Selain itu, seorang fasilitator mestinya tidak menjadi sekedar perpanjangan tangan pemerintah belaka. Setelah mengikuti kedua seri workshop tersebut, Abduh kini lebih memahami apa itu masyarakat serta mengapa dan bagaimana anggota masyarakat saling berinteraksi sebagai unit analisis dan terapan. Abduh juga menjadi lebih memahami prinsip-prinsip kemitraan dan mengapa kemitraan itu penting.

“Kami berharap dapat mendorong lahirnya fasilitator tangguh bersama-sama dengan masyarakat mampu mengidentifikasi dan merumuskan isu penting untuk melahirkan berbagai rekomendasi upaya pembangunan berdasarkan kondisi setempat” Kata Ashar Karateng, seorang Community Empowerment Speciliast pada CD Project, seusai memfasilitasi pelatihan tersebut.

CD Project sendiri bertujuan menguatkan kapasitas stakeholder yang terkait dengan pembangunan daerah, khususnya kapasitas dalam mengembangkan mekanisme penyediaan dan penggunaan sumber daya yang tepat melalui diskusi dan koordinasi antar stakeholder. Secara praktis, para penentu kebijakan, perencana, dan fasilitator didorong dan diperkuat untuk mengembangkan kemampuan mereka secara terpadu dapat mengidentifikasi dan menangani setiap masalah pembangunan daerah yang dihadapi.

Pemerintah Kabupaten Takalar, salah satu kabupaten yang menjadi lokasi CD Project di Sulawesi Selatan, menunjukkan dukungan bagi pembangunan kolaboratif dengan mengeluarkan SK Bupati untuk memperkuat gugus kerja koordinasi dan pertemuan-pertemuan perencanaan pada bulan April 2009. Melalui komitmen penganggaran dan keterlibatan staff yang potensial maka bibit kolaborasi dengan fasilitator bermula. Para fasilitator disiapkan dan diharapkan dapat memfasilitasi pembangunan di 33 desa pesisir dan pulau-pulau kecil di 6 kecamatan di Takalar.

Demi pembangunan daerah pesisir inilah, Pemerintah Kabupaten Takalar merencankan tiga kegiatan lanjutan bagi para fasilitator yakni perumusan rencana aksi kegiatan pemberdayaan masyarakat, lokakarya implementasi dan monitoring program, serta metode evaluasi dan feedback berbasis masyarakat.

Setelah upaya meredefenisi bersama fungsi fasilitator tersebut diharapkan para calon fasilitator dapat menjadi penopang bagi kolaborasi pendekatan top-down dan bottom up dalam pelaksanaan CD Project. Kedua pendekatan ini dipercaya mampu mendekatkan penentu kebijakan, perencana pembangunan dan fasilitator guna memperoleh luaran yang lebih berdaya guna dan berkelanjutan.

Tulisan ini juga dimuat di Newsletter: BaktiNewas / SoFEI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: